KBB Tingkatkan Status Jadi Tanggap Bencana

Bandung Raya

Kamis, 16 Mei 2019 | 15:54 WIB

190516155534-kbb-t.jpg

Dicky Mawardi

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat menaikan status kebencanaan dari siaga bencana menjadi tanggap bencana selama 14 hari ke depan. Peningkatan status ini menyusul terjadinya longsor di Desa Kidangpananjung, Kecamatan Cililin.

Akibat kejadian longsor tersebut, sebanyak 60 kepala keluarga (KK) atau 178 jiwa warga Kampung Cicapeu RW 06 terpaksa harus diungsikan ke tiga titik lokasi pengungsian.

"Penetapan status tanggap darurat agar penanganan dampak dari bencana bisa cepat. Terutama menyangkut pemulihan infrastruktur dan kebutuhan sehari-hari korban bencana," kata Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna saat meninjau lokasi bencana, Kamis (16/5/2019).

Selama meninjau lokasi bencana sekaligus mengunjungi warga yang mengungsi, bupati didampingi Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Barat Duddy Prabowo, Camat Cililin Endang Hadiat, Kabag Humas Setda Bandung Barat Hari Mustika, dsb. Masa tanggap darurat bencana dimulai dari tanggal 14-28 Mei.

"Sesuai aturan dengan ditetapkannya status tanggap darurat, pemerintah daerah bisa mencairkan anggaran belanja tidak terduga (BTT). Pencairannya tadi sudah saya tandatangani, nilainya sekitar Rp 470 juta," jelasnya.

Kebutuhan pengungsi

Anggaran BTT akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, logistik, pangan, sandang seperti selimut dan tidur. Di samping itu, digunakan untuk membuka akses air bersih dan sewa alat berat.

"Kejadian longsor di Kidangpananjung ini tak hanya menimpa pemukiman penduduk. Tapi juga terjadi beberapa titik longsor di jalan sepanjang 1,7 kilometer. Hasil tadi penjelasan dari BPBD, tadinya kita akan menyewa satu alat berat. Namun melihat kondisi di lapangan seperti itu, kalau hanya menggunakan satu alat berat penanganannya butuh waktu 26 hari, sehingga diputuskan menggunakan dua alat berat biar cepat selesai, " papar bupati.

Ia berharap penanganan bencana bisa diselesaikan selama 14 hari. Sehingga warga yang sekarang mengungsi bisa merayakan Idulfitri di rumahnya.

"Kedepannya apakah perlu direlokasi atau tidak, kita masih menunggu hasil kajian Badan Geologi yang.kemarin sudah melakukan penelitian," tandasnya.

Salah seorang pengungsi, Setiawan (23) mengatakan dirinya ikut mengungsi karena longsoran tanah sudah sampai di depan pintu rumahnya. Hal itu membuatnya tidak berani kembali ke rumah.

"Pas kejadian kebetulan saya sedang tinggal di rumah kakak yang jauh dari lokasi bencana. Tapi motor milik kakak yang ditinggal di rumah saya rusak terseret longsor," kata Setiawan.

Untuk menangani 178 pengungsi, Pemkab Bandung Barat sudah menyediakan dapur umum dan tenda pelayanan kesehatan. Ada tiga dokter dan empat perawat dari RSUD Cililin yang diterjunkan ke Kidangpananjung khusus melayani kesehatan para pengungsi.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR