Perajin Panci Keluhkan Kenaikan Harga Bahan Baku

Bandung Raya

Rabu, 15 Mei 2019 | 13:06 WIB

190515130803-peraj.jpg

Ziyan Muhammad Nasyith

Perajin buleung

SEJAK dua bulan terakhir ini para perajin buleung (panci), dandang, oven dan loyang mengeluhkan kenaikan harga bahan baku berupa lembaran alumunium, stainles steel dan galvanis. Padahal, saat bulan Ramadan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun ini, permintaan konsumen lumayan banyak dibanding hari biasa.

Salah satu perajin buleung asal Soreang, Kabupaten Bandung, Asep Sofian (38) mengatakan, kenaikan harga bahan baku lembaran alumunium, stainles steel dan galvanis sekitar 50 persen. Padahal setiap memasuki bulan Ramadan hingga ldul Fitri, usaha yang telah digeluti oleh tiga generasi itu ramai pembeli.

"Contohnya, untuk satu lembar alumunium yang paling tipis dari sebelumnya Rp 165 ribu, naik jadi Rp 250 ribu. Apalagi stainles steel yang paling tipis harganya sekitar Rp 400 ribu, sebelummya cuma Rp 250 ribu. Kenaikan harga cukup besar ini buat kami perajin sangat memberatkan. Padahal, sekarang ini lagi banyak pesanan," ujar Asep saat ditemui di bengkelnya, Jln. Pesantren-Stasiun, Soreang, Rabu (15/5/2019).

Setiap bulan Ramadan, kata Asep, kebanyakan konsumen yang membeli buleng atau panci besar untuk memasak bakso, karena banyak orang yang mendadak berdagang bakso, baik itu yang keliling maupun yang berdagang di rumah. Selain buleng, barang yang banyak dicari konsumen adalah peralatan membuat kue, yakni oven dan loyang. Karena kenaikan harga bahan baku ini, otomatis dirinya pun harus menaikan harga jual perabotan rumah tangga yang dibuatnya itu.

"Orang yang datang ke tempat saya itu bukan cuma yang mau beli saja, tapi banyak juga yang memperbaiki perabotannya yang rusak. Nah, kalau puasa sekarang mah justru kebanyakan orang yang memperbaiki dari pada beli baru, mungkin karena harga beli baru lumayan mahal," ujar pemilik bengkel kerja yang dinamakan Asep Buleng ini.

Usaha yang sudah dilakukan turun-temurun itu memang khusus membuat perabotan rumah tangga, seperti buleng dengan bahan yang berkualitas. Sehingga, harga jualnya pun tak bisa disamakan dengan yang biasa dijual dipasaran.

"Seperti langseng kecil, itu biasa saya jual Rp 70 ribu. Kalau dipasaran Rp 40 ribu, memang lebih murah tapi bahannya dari seng yang mudah berkarat. Kalau di tempat saya barang yang paling murah mulai dari Rp 70 ribu sampai lebih dari Rp 1 juta, seperti untuk buleng atau panci besar dengan diameter di atas 1 meter," terangnya.

Selama menekuni usaha yang dikerjakan serba manual ini, kata Asep, sebenarnya hanya kenaikan harga bahan baku yang seringkali tak bisa diperkirakan, karena memang bahan baku yang biasa dia beli dari toko material itu merupakan barang impor. Adapun bahan yang murah dan banyak itu seng, namun perabotan berbahan seng mudah berkarat dan rusak.

"Kalau peralatan kerja tidak ada masalah, meskipun kami tidak punya mesin tapi pekerjaan masih bisa kami tangani. Cuma masalah yang tidak bisa dihindari itu kenaikan harga bahan baku saja. Harapan saya sebagai pelaku usaha kecil, yah pengen adanya kemudahan dan murahnya harga bahan baku. Karena kalau naik terus juga bikin bingung, saya mau jualnya berapa," ujarnya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR