Minum Susu Jadi Menu Masyarakat Modern

Bandung Raya

Sabtu, 4 Mei 2019 | 13:50 WIB

190504135227-minum.jpg

Hj. Eli Siti Wasliah

ANAK-anak Indonesia mengalami berbagai permasalahan kesehatan dan gizi, seperti gaya hidup kurang aktif, malnutrisi, kekurangan vitamin D, dan gangguan pertumbuhan fisik atau stunting.

Kesimpulan tersebut berdasarkan Hasil studi Seanuts (Southeast Asian Nutrition Survey) yang diinisiasi oleh Frieslandcampina tahun 2012 terhadap lebih dari 16.000 anak usia 6 bulan – 12 tahun.

Selain itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2017, konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya 16,5 liter/kapita/tahun dari target 20 liter per kapita per tahun.

Konsumsi ini merupakan yang terendah di Asia Tenggara dengan Brunei Darussalam yang mencapai 129.1 liter, Malaysia dengan 50.9 liter, Singapura sebanyak 46.1 liter. Bahkan masih jauh lebih sedikit dibandingkan dari Vietnam yang berada di angka 20.1 liter susu per kapita per tahun.

Dekan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Husmy Yurmiati Ir., M.S., mengatakan dalam menu masyarakat modern, susu menjadi minuman yang wajib ada dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Hal ini tercermin dari berbagai aturan makan yang dianjurkan oleh pemerintah di berbagai belahan dunia. Di Amerika ada yang namanya My Plate, Indonesia dulu mempunyai 4 Sehat 5 Sempurna yang lalu disempurnakan menjadi Pedoman Gizi Seimbang.

Dikatakan, pengetahuan akan pentingnya susu bahkan sudah dimulai ketika manusia mulai beralih dari berburu ke bertani. Jadi kehidupan manusia memang berkaitan erat dengan konsumsi susu.

“Mitos seputar susu harus dihilangkan lewat praktik minum susu disertai riset tentang perilaku minum susu. Pemahaman gizi yang keliru ini akan mengakibatkan tidak terpenuhinya asupan gizi sesuai dengan kebutuhan,” ungkap Husmy melalui siaran persnya, Sabtu (4/5/2019).

Padahal, katanya susu merupakan salah satu asupan gizi yang memenuhi segala kebutuhan tubuh. Selain itu, dengan meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap susu akan menciptakan domino efek yang baik terhadap industri.

Menurunya, produksi susu nasional yang baru bisa mencukupi 20% kebutuhan pasar bisa semakin ditingkatkan karena adanya permintaan nyata dari masyarakat.

Terkait hal ini, Frisian Flag Indonesia (FFI) menggandeng Universitas Brawijaya, Universitas Padjadjaran serta berbagai sekolah dasar untuk menyebarkan manfaat susu melalui sosialisasi atau edukasi.

“Tujuan FFI sebagai perusahaan adalah ‘Nourishing by Nature’ yang salah satu pilarnya adalah komitmen untuk memberikan gizi yang baik bagi anak-anak dan keluarga Indonesia. Kami berkomitmen untuk berperan aktif membantu pemerintah membangun keluarga kuat Indonesia,” ujar Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro.

Saat ini, kata  Andrew salah satu fokus FFI adalah membantu pemerintah memerangi stunting yang masih diderita oleh sebagian anak-anak Indonesia dengan penyebaran informasi berbasis ilmiah kepada mahasiswa, pemberian susu dan pembangunan fasilitas olahraga kepada anak-anak sekolah dasar.

“Kerjasama ini bukan dilandasi oleh "Apa yang bisa kami lakukan untuk mereka" tetapi pada "Apa yang bisa kita lakukan bersama untuk satu sama lain,” jelas Andrew.

Ia menambahkan bahwa masih banyak kendala yang ditemukan dalam mempopulerkan susu sebagai minuman sehat. Pada umumnya, pola makan sehari-hari orang Indonesia belum memenuhi gizi seimbang.

Ia menilai gizi seimbang diartikan sebagai ragam bahan makanan yang berkualitas, jumlah dan proporsi yang sesuai sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi seseorang guna pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

“Kegiatan yang kami lakukan ini juga digelar dalam menyambut hari susu sedunia yang diperingati pada 1 Juni  dan juga hari pendidikan pada 2 Mei,” ujarnya.

Ia menambahkan, rangkaian acara ini menjangkau 14 Sekolah Dasar yang tersebar di Bandung, Sumedang, Lembang, Pangalengan, Malang, dan Pasuruan. Dalam acara ini, pendidikan mengenai pentingnya kebiasaan minum susu setiap hari dan berolahraga secara teratur disampaikan kepada lebih dari 5.000 siswa SD.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR