Masyarakat Arjasari Kembangkan Pertanian Kopi

Bandung Raya

Kamis, 25 April 2019 | 15:42 WIB

190425154322-masya.jpg

net

Ilustrasi.

BUDIDAYA pertanian kopi di sejumlah desa di Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung menjadi andalan atau unggulan bagi masyarakat setempat. Sekitar 70 sampai 75 persen warga Kecamatan Arjasari merupakan petani yang menggantungkan hidupnya pada hasil alam.

"Selain produksi kopi, masyarakat Kecamatan Arjasari menggantungkan kebutuhan ekonominya pada hasil pertanian ubi arnet dan jagung. Jadi ada tiga unggulan produksi pertanian di Kecamatan Arjasari," kata Camat Arjasari, Djoko Mardianto kepada galamedianews.com di Soreang, Kabupaten Bandung, Kamis (25/4/2019).

Menurut Djoko, budidaya tanaman kopi di Kecamatan Arjasari itu, tersebar di Desa Ancol Mekar, Mekarjaya, Baros, Mangunjaya, Arjasari, Pinggirsari dan desa lainnya. "Di desa-desa itulah potensi unggulan pertanian kopi di Kecamatan Arjasari," katanya.

Djoko mengatakan, boomingnya produksi kopi asal Kecamatan Arjasari itu dalam kurun waktu dua sampai tiga tahun terakhir ini.  Tetapi pengembangan produksi kopi di Arjasari sudah berlangsung puluhan tahun.

"Bahkan produksi kopi asal Desa Ancolmekar ada yang sudah dikirim sebanyak 100 ton ke Australia pada kesempatan pameran kopi 2018 lalu. Itu kopi dalam bentuk greenbean, masih hijau atau belum dirosting. Kopinya belum dihancurkan atau belum diolah," jelas Djoko.

Ia mengatakan, prduksi kopi yang dipasarkan ke luar negeri itu sangat menguntungkan bagi para petani. Pasalnya, bisa dijual antara Rp 7.000-Rp 8.000 per kg dalam bentuk greenbean tersebut.

"Melalui pertanian kopi itu, ada peningkatan ekonomi bagi masyarakat," katanya.

Untuk mendukung pengembangan kopi di Arjaaari, kata Djoko, Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) di Desa Arjasari sudah mendapatkan bantuan mesin pengolahan kopi dari Kementerian Desa. Mesin pengolahan kopi itu senilai Rp 1,3 miliar. Tetapi ada juga di Desa Arjaaari yang mendapatkan mesin pengolahan hasil kopi dari Provinsi Jabar.

"Tapi bantuan dari provinsi itu, belum ada mesin rosting. Baru pengolahan menjadi greenbean sedangkan untuk pengolahan rosting kopi numpang ke Bumdes Arjasari," katanya.

Lebih lanjut Djoko mengatakan, di Kecamatan Arjasari itu  sudah mencapai ribuan warga yang terlibat dalam pengelolaan kopi. Sementara jumlah penduduk Arjasari mencapai 105.000 jiwa.

Tetapi unggulan pertama produksi pertanian di Kecamatan Arjasari, yaitu ubi arnet, dan kedua kopi, ketiga jagung. Bahkan produksi ubi arnet dan jagung asal Arjasari lebih terkenal.

Ia mengatakan, masih cukup terbuka luas lahan untuk pengembangan pertanian di Arjasari. Apalagi di Kecamatan Arjasari merupakan kawasan perbukitan dan pegunungan.

"Kita terus mendorong masyarakat untuk pengembangan budidaya tanaman kopi. Bahkan kita mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan miring ditanami kopi, bukan tanaman sayur mayur. Hal tersebut untuk mengurangi pengikisan pada lahan miring," katanya.

Dikatakan Djoko, penanaman kopi itu merupakan pemulihan lahan kritis di Arjasari. Pertanian kopi, katanya, dapat meningkatkan indeks pembangunan manusia pada bidang ekonomi yang didorong produksi pertanian tersebut.

Ia juga menjelaskan, ada produksi kopi asal Arjasari dengan merek arjasari, meski produksinya belum banyak dan baru kebutuhan lokal. Selain itu ada merek laskar kopi, balebat kopi, kopi hitam kupu-kupu, koatin kopi.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR