Setiap Hari, P2TP2A Bandung Barat Terima Laporan Soal Pelecehan Seksual

Bandung Raya

Jumat, 19 April 2019 | 13:48 WIB

190419135046-setia.jpg

PUSAT Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bandung Barat hampir setiap hari menerima pengaduan pelecehan seksual dari masyarakat. Setiap laporan ditindaklanjuti dengan mendatangi alamat rumah korban.

"Ini sangat memprihatinkan kita semua. Penanganan kasus ini tidak hanya bisa satu sektor tapi harus secara komprehensif dengan melibatkan semua pihak, baik P2TP2A,  pemerintah daerah sampai masyarakat itu sendiri," kata Ketua P2TP2A Kabupaten Bandung Barat, Yuyun Yuningsih di Lembang, Jumat (19/4/2019).

Menurutnya, setiap laporan yang masuk selalu ditindaklanjuti hingga pelaku terduga pelecehan seksual terpantau sampai pengadilan. Sementara korban dipulihkan dari trauma yang menimpanya.

"Kami terus pantau penanganan pelaku hingga tingkat pengadilan. Begitupun dengan korban, kami ikutkan program trauma healing. Harapannya para korban bisa segera pulih dari traumanya," kata Yuyun.

Di Bandung Barat sudah terbentuk 165 Satuan Tugas (Satgas) P2TP2A yang berada di setiap desa. Keberadaan satgas ini untuk melakukan penjangkauan terhadap perempuan dan anak yang mengalami permasalahan, mengidentifikasi kondisi dan layanan yang dibutuhkan perempuan dan anak yang mengalami permasalahan, melindungi perempuan dan anak di lokasi kejadian.

Sementara itu, berdasarkan data dari Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak kasus  pelecehan seksual yang dilakukan orang dewasa terhadap anak di Bandung Barat sepanjang 2018 sebanyak  17 kasus.

Menurutnya, P2TP2A terus melakukan pemahaman kepada masyarakat tentang tindak pencegahan pelecehan dan kekerasan pada anak. Termasuk cara menanganinya jika terjadi kasus tersebut di lingkungannya.

Sedangkan terkait kasus perundungan atau bully, Yuyun mengatakan baru pertama kali mendapat laporan, yaitu kasus yang menimpa  Nabila anak murid sekolah dasar di SDN 1 Cibodas.  Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar.  Ia mendapatkan perlakuan  tidak menyenangkan dengan cemoohan dari teman-temannya Saat ini kasus itu  menjadi viral di media sosial.

Nabila tinggal di Kampung Cibodas nomor 27, RT 3/RW 7, Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar  bersama kakek  dan neneknya.

"Kasus Nabila juga kita tangani. Dari kasus ini dapat dipetik pelajaran berharga buat semua.  Di sekolah anak tidak hanya mendapat pelajaran formal semata tapi juga pendidikan budi pekerti dan etika," ujarnya.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR