Ini Harapan Kepala Desa Tegalluar Untuk Menanggulangi Banjir

Bandung Raya

Selasa, 16 April 2019 | 18:44 WIB

190416184511-ini-h.jpg

dok

UNTUK menanggulangi banjir yang terjadi di Desa Tegalluar Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, ada sejumlah opsi yang diungkapkan aparatur pemerintah desa, Selasa (16/4/2019) sore. Sampai Selasa sore, kawasan Desa Tegalluar masih terendam banjir luapan Sungai Cikeruh, anak Sungai Citarum dalam kurun waktu selama satu pekan lebih.

Kepala Desa Tegalluar Galih Hendrawan berharap kepada Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Barat untuk meninggikan jembatan di atas aliran Sungai Cikeruh yang merupakan akses Jalan Raya Sapan-Gedebage.

"Itu salah satu upaya menanggulangi banjir di kawasan Tegalluar," kata Galih kepada galamedianews.com di Desa Tegalluar, Selasa (16/4/2019) sore.

Selain meninggikan jembatan, Galih berharap kepada Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) untuk membelokkan aliran Sungai Cikeruh yang bermuara ke  Sungai Citarum.

"Jika aliran Sungai Cikeruh dibelokkan, akan memudahkan aliran air Sungai Cikeruh bermuara ke Sungai Citarum. Selain itu untuk mengurangi endapan sedimentasi di muara Sungai Citarum tersebut yang merupakan tempat bermuaranya Sungai Cikeruh. Saat ini, terjadi pengendapan sedimentasi di muara Sungai Cikeruh tempat bertemunya dengan Sungai Citarum tersebut," katanya.

Saat ini, kata Galih, aliran Sungai Citarum meluap dan mengarah ke Sungai Cikeruh jika terjadi aliran air cukup besar di Sungai Citarum tersebut. "Dampaknya, aliran air Sungai Cikeruh meluap ke permukiman warga," katanya.

Galih juga berharap kepada BBWSC untuk membuat tanggul di pinggir Sungai Cikeruh tersebut. Baik tanggul yang terbangun atau terbuat dari paku alam maupun tembok penahan luapan air Sungai Cikeruh.

"Dengan adanya pembangunan tanggul itu untuk menahan luapan air Sungai Cikeruh supaya tidak menggenangi permukiman penduduk," katanya.

Galih juga berharap kepada BBWSC, setiap pengerjaan pengerukan Sungai Cikeruh, endapan lumpurnya ditumpuk atau ditanggulkan di bantaran sungai.

"Kalau bantaran sungainya ada tanggul, diaaat aliran air Sungai Cikeruh meluao tidak langsung menggenangi permukiman penduduk," katanya.

Menurutnya, persoalan banjir di Desa Tegalluar, kini menjadi persoalan serius. Pasalnya, 4.500-5.000 kepala keluarga terdampak banjir. Bahkan ada permukiman penduduk yang tersebar di 6 RW sempat terisolasi banjir.

"Bahkan, saat ini di beberapa titik permukiman masih tergenang banjir. Ditambah lagi saat ini kembali turun hujan deras, setelah sebelumnya banjir sempat surut," kata Galih.

Dikatakannya, bencana  banjir di Desa Tegalluar itu semakin parah, setelah derasnya aliran Sungai Cikeruh setelah mendapat suplai air dari Sungai Cinambo yang berasal dari Kota Bandung.

"Sungai Cinambo itu merupakan saluran pembuangan tol air dari Kota Bandung. Ditambah lagi, terjadinya alih fungsi lahan di kawasan Gedebage yang mencapai 300-400 hektare. Maka secara otomatis, air yang berasal dari lokasi alih fungsi lahan itu terbuang ke Sungai Cinambo yang bermuara ke Sungai Cikeruh. Akibatnya, aliran air Sungai Cikeruh tambah besar dan menimbulkan banjir di Desa Tegalluar semakin parah," paparnya.

Dampak banjir tersebut, akses Jalan Sapan-Gedebage sempat terputus karena tergenang banjir. Sehingga dikeluhkan masyarakat luas. "Kami berharap kepada BBWSC, disaat terjadi banjir di Desa Tegalluar turut meninjau. Supaya ada solusi penanggulangan banjir," pungkasnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR