Tanggulangi Banjir, Kaji Ulang Dulu Tata Ruang

Bandung Raya

Selasa, 16 April 2019 | 17:01 WIB

190416170254-tangg.jpg

Engkos Kosasih

Pegiat Lingkungan Kabupaten Bandung Edy Rahayu

UNTUK penanggulangan bencana banjir yang menerjang sejumlah kecamatan di Kabupaten Bandung, pegiat lingkungan menyuarakan harus ada kaji ulang tata ruang. Selain itu ada peninjauan kembali proses peizinan dalam pelaksanaan berbagai pembangunan.

"Lebih penting lagi untuk penanggulangan banjir di Kabupaten Bandung harus ada moratorium izin mendirikan bangunan di kawasan Bandung Utara (KBU), yang sampai saat ini belum ada moratorium izin mendirikan bangunan di KBU. Kami juga berharap ada audit lingkungan di kawasan Bandung Selatan (KBS), dalam upaya menanggulangi persoalan banjir dan lingkungan di Kabupaten Bandung," kata Pegiat Lingkungan Kabupaten Bandung Edy Rahayu kepada galamedianews.com di Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, Selasa (16/4/2019).

Ia menyatakan hal itu menyusul persoalan banjir dalam beberapa pekan ini semakin meluas di Kabupaten Bandung. Mulai di Kecamatan Baleendah, Bojongsoang, Dayeuhkolot, Rancaekek, Majalaya, Banjaran dan kecamatan lainnya.

Hal tersebut menyusul curah hujan masih cukup banyak dalam beberapa pekan terakhir ini. "Untuk mengendalikan genangan air yang semakin meluas di Kabupaten Bandung, khususnya di Desa Tegalluar Kecamatan Bojongsoang bisa dibangun danau buatan. Danau buatan itu untuk tempat parkir air di kawasan Desa Tegalluar, yang belakangan ini diterjang banjir luapan Sungai Cikeruh," kata Edy.

Selain karena luapan Sungai Cikeruh dan derasnya turun hujan, imbuh Edy, banjir di Desa Tegalluar juga dipicu oleh pesatnya perkembangan kawasan atau pembangunan gudang dan ruko, selain pabrik.

"Dulu di Desa Tegalluar itu sempat diwacanakan menjadi Kota Baru Tegalluar. Tetapi wacana itu ditunda, namun perkembangan pembangunan di kawasan tersebut terus berlangsung. Seiring dengan adanya pembangunan itu, tidak dibarengi dengan penataan ruang yang mengarah pada sebuah manajemen pembuatan danau retensi untuk mengendalikan banjir," paparnya.

Tak hanya persoalan tata ruang, Edy mengatakan, masifnya pembangunan di kawasan Gedebage Kota Bandung juga berpengaruh pada persoalan banjir di Desa Tegalluar. Banjir di Desa Tegalluar itu mengingatkan kejadian banjir pada tahun 1990 silam.

"Banjir yang berasal dari Gedebage Kota Bandung bermuara ke Desa Tegalluar. Untuk itu, dalam penanganan banjir di kawasan tersebut harus duduk bersama antara Pemerintah Provinsi Jabar, Pemkab. Bandung dan Pemkot Bandung," katanya.

Selain menyikapi banjir yang terjadi di Desa Tegalluar, kata Edy, pembangunan danau buatan juga sebagai tempat parkir air dibangun di Desa Bojongsari Kecamatan Bojongsoang. "Mengingat kawasan tersebut rawan banjir," katanya.

Edy juga berharap ada pembangunan danau retensi di kawasan Rancaekek, Solokanjeruk dan kecamatan lainnya untuk menampung air disaat memasuki musim hujan. "Dengan adanya pembangunan danau retensi itu untuk mengurangi aliran air di sungai yang selama ini menjadi penyebab banjir," katanya.

Di samping itu, Edy juga berharap kepada setiap pengembang pembangunan perumahan atau cluster untuk membuat sumur imbuhan di setiap rumah yang dibangun.
"Air hujan yang jatuh itu ditampung dan dimasukkan ke dalam sumur imnuhan, tidak dialirkan ke selokan atau sungai. Cara seperti ini sangat efektif untuk menanggulangi banjir yang belakangan ini terus terjadi di Kabupaten Bandung," katanya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR