Pergerakan Tanah Ancam Belasan Rumah di Cipatat

Bandung Raya

Senin, 8 April 2019 | 21:33 WIB

190408213408-perge.png

PERGERAKAN tanah mengancam belasan rumah di Kp. Cilimus Mekarsari, Desa Citatah, Kec. Cipatat, Kab. Bandung Barat. Para warga pun mulai merasa khawatir, pergerakan tanah semakin melebar serta mengancam jiwa mereka.

Berdasarkan keterangan warga, rekahan tanah sepanjang 50 meter sudah terjadi di bukit yang berada di atas perkampungan, sejak Maret 2019 lalu. Akibat tingginya intensitas hujan, rekahan tanah bertambah parah dan menyebabkan tanah ambrol dengan panjang sekitar delapan meter.

"Tanah ambrol saat hujan besar, beberapa hari lalu. Saya sudah laporkan kejadian ini kepada ketua RT dan RW di sini, tapi belum ditanggapi," ujar salah seorang warga yang rumanya terancam, Rohandi (44) di Cipatat, Senin (8/4/2019).

Saat hujan deras mengguyur, Rohandi mengaku selalu khawatir, karena rumahnya tepat berada di atas tebing. Ditambah lagi, di sekitar perkampungan terdapat mata air yang muncul dari bawah tanah, sehingga bisa mempercepat pengikisan tanah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat, Duddy Prabowo mengaku, sudah menerima informasi pergerakan tanah di Cipatat dan sekitar 14 rumah yang terancam longsoran tanah.

"Kami sudah melakukan assesment di lokasi, kami sudah mengimbau kepada warga untuk berhati-hati dan tetap waspada, apalagi kalau hujan deras," ujar Duddy.

Sementara itu, Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, saat ini wilayah Bandung Raya dan sekitarnya sedang di masa pancaroba sehingga terjadi peningkatan curah hujan. Untuk awal musim kemarau, diperkirakan baru terjadi di awal Mei.

"Bulan ini adalah masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, atau masa pancaroba. Pada masa ini, adanya potensi awan Cumulonimbus akan lebih meningkat," ungkap Kepala BMKG Bandung, Tony Agus Wijaya.

Di masa pancaroba, kata Tony, cuaca sangat mudah berubah. Biasanya pada pagi hari cerah, lalu siang atau sore hari akan terbentuk awan Cumulonimbus yang menyebabkan hujan deras kurang lebih selama satu jam.

"Beberapa hari terakhir ini terjadi peningkatan curah hujan di wilayah Bandung, karena terdapat pembentukan awan hujan disebabkan kelembaban udara yang tinggi, serta ditambah adanya belokan angin di wilayah Bandung dan sekitarnya. Awan Cumulonimbus yang berlapis tinggi, berpotensi menyebabkan hujan es dalam skala lokal," terangnya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR