Orang Tua Siswa SMPN 3 Soreang dan Pasirjambu Keluhkan Mahalnya Biaya UNBK

Bandung Raya

Senin, 8 April 2019 | 10:58 WIB

190408110047-orang.jpg

dok

Ilustrasi

SEJUMLAH orang tua siswa mengeluhkan mahalnya biaya mengikuti pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada 22-25 April 2019 mendatang. Untuk bisa mengikuti ikut UNBK peserta didik dibebankan biaya sebesar Rp150.000-Rp600.000.

Salah seorang orang tua siswa di SMPN 3 Soreang, Risman (bukan nama sebenarnya) mengatakan, untuk siswa yang tidak memiliki laptop harus membayar Rp600.000 dan disediakan komputer dari sekolah. Sedangkan siswa yang memiliki laptop pribadi diperbolehkan dibawa dan dipakai saat UNBK, namun harus tetap membayar Rp150.000.

"Sebenarnya mah berat. Walaupun tidak punya uang juga, namanya orang tua mah berusaha cari pinjaman ke sana-ke mari, yang penting anak saya bisa ikut UNBK. Dibilang tidak setuju, ya mau bagaimana lagi soalnya sudah jadi keputusan pihak sekolah," ungkap Risman di Soreang, Senin (8/4/2019).

Karena tidak memiliki laptop pribadi, Risman terpaksa harus membayar Rp600.000. Uang tersebut ia pinjam dari bosnya, dengan perjanjian dibayar dengan cara mencicil dari upahnya sebagai buruh konveksi di salah satu konveksi tak jauh dari tempat anaknya sekolah.

"Jangan lihat di daerah sini banyak pengusaha konveksi yang rumahnya besar-besar dan mewah dong. Tapi lihat juga orang tua siswa di sekolah itu enggak semuanya anak bos, tapi banyak juga anak kuli menjahit seperti saya. Tapi karena kami ini orang kecil tidak bisa apa-apa, terpaksa saja diikutin aturannya," ungkapnya.

Tak hanya di Soreang, para orang tua siswa di SMPN 1 Pasirjambu pun mengeluhkan hal yang sama. Untuk pelaksanaan UNBK ini, siswa harus membayar sebesar Rp250.000.

"Memang bahasanya dari pihak sekolah 'sukarela', tapi nilainya kenapa ditentukan dan anak yang belum bayar ditagih setiap hari. Sebagai pembenaran, pungutan ini dijustifikasi dengan kalimat sudah dirapatkan dan diputuskan oleh komite sekolah bersama para orang tua. Kalau sudah begitu mau tidak mau kami bayar," ungkap salah seorang orang tua siswa, Dodi (bukan nama sebenarnya).

Sepengetahuan Dodi, di SMPN 1 Pasirjambu terdapat kurang lebi 400 siswa kelas 9 yang akan mengikuti UNBK. Para siswa sudah dua kali mengikuti uji coba dengan menggunakan komputer, yang katanya disewa pihak sekolah. Hal yang mengecewakannya, ternyata komputer sewaan tersebut kualitasnya kurang bagus.

"Bayangkan saja Rp250.000 per siswa dikali sekitar 400 orang siswa. Itu jumlah yang besar. Dan anehnya sudah bayar mahal, komputernya juga tidak layak. Kemudian kami juga dibebankan untuk bayar uang perpisahan sebesar Rp100.000," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang SMP pada Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung, Maman Sudrajat mengaku terkejut dengan adanya pungutan yang tak lazim ini. Karena sejatinya, Disdik sejak jauh hari telah mengeluarkan surat edaran berisi larangan kepada pihak sekolah agar tidak melakukan pungutan dalam bentuk apapun, yang bisa memberatkan orang tua siswa dalam pelaksanaan UN.

"Terus terang saya juga kaget mendengarnya, tentu saja akan kami dalami masalah ini.  Sikap kami dari Disdik sudah jelas tidak memperbolehkan ada pungutan itu," ujar Maman dikonfirmasi terpisah melalui telepon selulernya.

Maman menduga, pungutan biaya untuk pelaksanaan UNBK tersebut dilakukan berdasarkan improvisasi sekolah dengan pihak komite sekolah. Dengan tujuan agar sekolah mereka terkesan siap menggelar UNBK seperti sekolah lainnya. Padahal, ketika sekolah belum siap menggelar UNBK lebih baik mengikuti Ujian Nasional Pensil Kertas (UNPK).

"Ini biasanya pihak sekolah ingin terlihat siap dan tidak tertinggal sama sekolah lain. Tapi kalau begitu caranya malah bikin gaduh. Padahal UNPK saja kalau memang belum siap," katanya.

Menurutnya, alangkah baiknya pihak sekolah yang tetap ingin menggar UNBK tidak memberatkan orang tua siswa. Adapun partisipasi orang tua siswa harus dilakukan benar-benar sesuai kemampuan siswa, bukan malah membebani orang tua siswa dengan sejumlah uang.

Pada tahun ini, kata Maman, sekitar 42 ribuan siswa kelas 9 SMP Negeri dan Swasta di Kabupaten Bandung akan mengikuti UN. Dari jumlah sekolah Negeri dan swasta sebanyak 323 ini, sekitar 200'an sekolah akan melaksanakan UNBK dan sisanya masih tetap melaksanakan UNPK.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR