Industri Garmen Jabar Berikan Kontribusi Tiga Besar Nasional

Bandung Raya

Senin, 18 Maret 2019 | 20:22 WIB

190318202452-indus.jpg

Irwina Istiqomah

INDUSTRI garmen di Jawa Barat memberikan kontribusi tiga besar terhadap penjualan secara nasional setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur. Jabar, khususnya di Bandung memang dikenal sebagai pusat tren fesyen dan surga belanja.

Koordinator Promosi Cardinal, Joga Suryaprakosa mengatakan bahwa Bandung memiliki selera bergaya yang unik. Hal inilah yang menjadikan Bandung sebagai salah satu kota mode di Indonesia dengan beragam merek dari produk usaha mikro menengah hingga rancangan dari fashion designer.

"Selera fesyen di setiap daerah berbeda. Koleksi yang laku di Jakarta dan Bandung belum tentu sama karena punya gaya masing-masing. Kalau orang Bandung itu ingin sesuatu yang beda. Mereka tidak mau mengikut gaya di daerah lain," tuturnya di Paskal 23, Senin (18/3/2019).

Dari riset yang dilakukan pihaknya, warga di Tasikmalaya lebih menyukai gaya yang kasual. Untuk warga Bandung akan tertarik dengan koleksi keluaran terbaru dan di warga Cirebon mempertimbangkan soal harga.

Joga melanjutkan, pemain industri garmen harus jeli melihat kemauan konsumen. Ia mencontohkan, saat momentum Lebaran ada koleksi khusus.

"Ada kenaikan penjualan di momen Lebaran minimal 40 persen. Persiapannya itu membutuhkan waktu 6 bulan dari pembuatan desain sampau produk masuk ke toko," katanya.

Maraknya belanja online, nyatanya tidak membawa peningkatan volume transaksi. Konsumen justru masih berminat untuk datang langsung ke toko.

"Penjualan online belum bisa berbicara banyak. Ini hanya untuk beradaptasi debfab perkembangan zaman. Nilainya masih berkisar 4-5 persen saja. Penjualan di toko masih tinggi karena orang kan ingin pakaiannya dicoba dulu," jelasnya.

Selain pasar di Indonesia, pihaknya juga menerima pesanan dari Eropa Timur, Timur Tengah, dan beberapa negara Asia. Namun sejak tahun 2000, aktivitas ekspor dirasa sangat berat.

"Kami lebih memilih memperkuat pasar lokal. Karena untuk ekspor itu harganya kalah bersaing dengan negara-negara di Asia lainnya. Tapi, kami masih menerima pesanan dari luar negeri. Sebisa mungkin kami jaga kualitas meski bahan bakunya ada yang didatangkan impor," terangnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR