Pemkab Bandung Hijaukan KBU Melalui Gerakan Satapok

Bandung Raya

Sabtu, 16 Maret 2019 | 15:58 WIB

190316160803-pemka.jpg

PEMERINTAH Kabupaten Bandung kembali melaksanakan gerakan penanaman pohon di kawasan Bandung Utara (KBU) yang meliputi Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung, Sabtu (16/3/2019).

Gerakan penanaman pohon itu untuk meminimalisir lahan kritis di KBU, selain mengantisipasi ancaman banjir dan endapan lumpur. Gerakan penghijauan itu sebagai rangkaian dari gerakan serupa di kawasan Caringin 3 Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung belum lama ini.

Gerakan serupa akan dilaksanakan di Kecamatan Cileunyi hingga ke kawasan Bandung Selatan (KBS). Gerakan penghijaun itu di antaranya dilaksanakan di kawasan Pasir Gebuk Desa Girimekar yang merupakan lahan milik carik desa, dibawah penguasaan Desa Jatiendah, Melati Wangi dan Desa Girimekar, Kecamatan Cilengkrang. Gerakan penanaman pohon itu dalam rangka bulan menanam sebagai upaya memulihkan lahan kritis di KBU.

Sebanyak 3.200 pohon tanaman kayu-kayuan dan buah-buahan yang ditanam di KBU tersebut, di antaranya 1.000 pohon maysobsis, 1.000 ekaliptus, 500 suren, 500 pohon kayu manis dan damar, dan 200 manglid. Selain itu banyak juga pohon nangka, alpuket dan tanaman lainnya yang ditanam pada lahan tanah carik desa seluas 24 hektare.

Sememtara di kawasan tersebut terdapat lahan kritis yang merupakan lahan milik masyarakat. Sedangkan lahan kehutanannya hanya 14 persen yang mengalami kerusakan.

Gerakan penanaman pohon ini kerjasama antara Pemkab. Bandung dengan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah V Provinsi Jabar, Karang Taruna Kecamatan Cilengkrang, Laskar Merah Putih Indonesia, dan sejumlah pihak lainnya. Pemulihan lahan kritis itu sinergi dengan program Bupati Bandung H. Dadang M. Naser, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Asep Kusumah, dan Camat Cilengkrang Edi Kusnadi dan aparatur desa setempat dalam merealisasikan program satapok (sabilulungan tanam pohon kesayangan).

Program satapok ini disinergikan pula dengan Hari Bhakti Rimbawan ke-36 dalam melaksanakan penanaman pohon. Dalam kegiatan itu mengusug tema "hutan untuk kesejahteraan rakyat dan lingkungan sehat".

Bupati Bandung mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak merusak gunung atau hutan. "Jika hutan banyak dirusak, akibatnya banjir dan merugikan diri sendiri," kata Dadang.

Dadang mengapresiasi adanya gerakan penanaman pohon di lahan carik desa dan pihak desa memberikan keleluasaan untuk melaksanakan penghijauan di kawasan tersebut.

"Gerakan penanaman ini berharap berdampak ekonomi bagi masyarakat. Jangan saling tuding ketika terjadi banjir. Jangan sampai terjadi banjir menyalahkan kita ketika terjadi banjir di Kota Bandung," kata Bupati.

Menurutnya, gerakan penanaman pohon ini merupakan bagian dari ibadah sosial terhadap perbaikan lingkungan. "Apalagi yang ditanam ini merupakan tanaman buah-buahan, diharapkan banyak memberikan manfaat," katanya.

Dadang pun menyatakan, adanya program Citarum Harum di Kabupaten Bandung yang dilaksanakan di daerah aliran Sungai Citarum mulai dari hulu sampai hilir untuk kesejahteraan rakyat Jabar. Pasalnya, air Sungai Citarum banyak dimanfaatjan masyarakat. Ia mengajak masyarakat untuk tetap konsisten menanam pohon.

"Tiada hari tanpa menanam. Ada kesempatan terus menanam pohon. Mumpung musim hujan. Pohon yang ditanam untuk dipelihara supaya tumbuh besar. Mudah-mudahan apa yang ditanam menjadi amal ibadah kita," katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Asep Kusumah mengatakan, gerakan penghijauan ini untuk mengurangi risiko ancaman banjir dan endapan lumpur yang disebabkan dari lahan kritis.

"KBU ini ada perbedaan dengan kawasan Bandung Selatan (KBS). DI KBU, lahan kritis itu di luar kawasan hutan, seperti sebagian pada lahan milik carik desa ini. Umumnya kawasan hutan di KBU terjaga dan hanya 14 persen kawasan hutan yang terganggu. Beda dengan di KBS, yang mengalami kerusakan itu di kawasan Perhutani dan Perkebunan. Dengan adanya kerusakan lahan itu dapat merugikan kehidupan yang lain," jelas Asep.

Ia berharap dengan adanya gerakan bulan menanam ini, merupakan bagian dari penguatan pemulihan lahan kritis di KBU. Selain saat ini sudah ada program Citarum Harum yang sudah berlangsung, salah satunya untuk memulihkan KBS yang harus lebih ditekan dalam pengurangan lahan kritisnya.

"Semua pihak harus terlibat dalam mengurangi risiko banjir dan endapan sedimen, yaitu dengan cara melaksanakan penanaman pohon melalui program satapok," kata Asep.

Asep menambahkan, gerakan satapok ini untuk membangun motivasi masyarakat dalam upaya melakukan konservasi lingkungan. "Melalui satapok ini, konservasi lebih mudah dan sederhana karena masing-masing individu turut terlibat. Satu orang minimal tanam 2 pohon seumur hidup. Kenapa? 1 pohon untuk kehidupan sendiri untuk memenuhi oksigen dan air, satu pohon untuk konservasi berbasis ibadah dan kesejahteraan ibadah sodakoh oksigen, dan air untuk lingkungan berbasis kesejahteraan," katanya.

Asep mengatakan, tanaman konservasi ini dapat meningkatkan kesejahteraan, karena menanam nangka, alpuket, jeruk, kopi sebagai tanaman unggulan.

Pihaknya pun berharap kedepannya Kabupaten Bandung dapat menciptakan 1000 kampung melalui upaya konservasi tematik. Di antaranya kampung durian, kampung jengkol, peutai, jeruk, dengan harapan kedepannya menjadi destinasi wisata. Pihaknya berusaha untuk memotivasi menanam pohon dan wajib karena sifatnya ibadah selain untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

"Tak ada lahan yang tak bisa ditanami di Kabupaten Bandung karena lahannya subur. Saat ini, merupakan tahun beberes lingkungan. Semua harus menjadi pahlawan dan solusi bagi lingkungan. Meningkatkan kualitas lingkungan, yang paling berat itu pembangunan di bidang lingkungan. Jumlah penduduk Kabupaten Bandung sebanyak 3,6 juta jiwa akan menjadi masalah bagi lingkungan, tetapi harus bisa menjadi solusi bagi lingkungan," katanya.

Sementara itu, Camat Cilengkrang Edi Kusnadi mengatakan, gerakan penanaman ini merupakan pengurangan lahan kritis. "Kawasan lahan kritis yang kita tanam itu sebagai daerah resapan air hujan. Lahan carik desa ini merupakan lahan kritis," katanya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR