LIPI: Waspadai Siklus Pelepasan Energi Patahan Lembang

Bandung Raya

Kamis, 14 Maret 2019 | 19:38 WIB

190314193846-lipi-.jpg

Dicky Mawardi

Seorang warga tengah memotong rumput liar dengan latar belakang Patahan Lembang di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (14/3/2019).

LEMBAGA Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengingatkan kepada Pemerintah Kabupaten Bandung Barat agar mewaspadai siklus pelepasan energi Patahan Lembang. Jika patahan ini sampai bergeser bisa menimbulkan gempa dengan kekuatan 6-7 skala richter.

Oleh karena itu, warga yang tinggal di dekat daerah patahan juga diimbau untuk selalu waspada terhadap kemungkinan buruk yang bisa terjadi kapan saja. Patahan Lembang membentang sepanjang 29 kilometer dari daerah Batuloceng, Desa Suntejaya, Kecamatan Lembang sampai Padalarang dekat pintu Tol Padalarang.

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mudrik R Daryono mengatakan, berdasarkan hasil kajiannya, sekarang ini sesar aktif atau Patahan Lembang sedang memasuki fase siklus pelepasan energi. Siklusnya antara 170 sampai 670 tahun.

"Selama 560 tahun belum pernah terjadi gempa lagi di Patahan Lembang. Semua harus waspada jika sampai patahan ini bergeser karena bisa menimbulkan gempa berkekuatan 6-7 skala richter," kata Mudrik saat ditemui di Ngamprah, Kamis (14/3/2019).

Ia menambahkan, karena fakta penelitiannya seperti itu, maka semua harus waspada dan melakukan upaya preventif."Bencana itu tidak bisa diprediksi, bisa terjadi besok atau mungkin seratus tahun lagi," ujarnya.

Ia melihat Pemkab Bandung Barat dalam hal ini BPBD Kabupaten Bandung Barat (KBB) sudah melakukan berbagai upaya cukup baik. Prosedur pencegahan telah dilakukan untuk melindungi diri juga sosialisasi dan menyiapkan jalur-jalur evakuasi pengamanan. Ini penting agar masyarakat bisa mengambil tindakan sesuai dengan SOP.

"Saya juga mengimbau kepada masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan atau merasa resah, jika sudah melakukan antisipasi. Jalani saja kehidupan secara normal dengan tetap jangan melupakan kewaspadaan," sarannya.

Di tempat yang sama,  Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB, Asep Sodikin mengatakan, pemerintah daerah sudah melakukan berbagai upaya sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan keberadaan Patahan Lembang. Tak hanya itu sudah melakukan inventarisasi wilayah yang terdampak jika patahan mengalami pergeseran.

"Kami sudah lakukan sosialisasi secara masif kepada masyarakat, terutama yang tinggal di daerah yang dilintasi patahan seperti Kecamatan Lembang, Parongong, Cisarua, Ngamprah dan Padalarang. Bagian dari antisipasi itu dengan membentuk desa tangguh bencana," kata Asep yang juga menjabat sekretaris daerah (sekda) Bandung Barat.
 
Bukti aktifnya patahan Lembang terjadinya gempa berkekuatan 3,3 SR yang  menimpa Kampung Muril, Desa  Jambudipa, Kecamatan Cisarua, KBB pada 28 Agustus 2011. Sedikitnya 103 rumah rusak akibat gempa bersumber dari patahan tersebut.

Sementara itu, hasil pendataan Institut Teknologi Bandung (ITB) terdapat 94 sekolah yang berada pada radius 1 kilometer dari Patahan Lembang.


Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR