Bumdes Desa Nagrog Kini Miliki 3.000 Nasabah

Bandung Raya

Jumat, 11 Januari 2019 | 16:00 WIB

190111160126-bumde.jpg

harapanjogja

Ilustrasi.

SEJAK berdirinya di tahun 2010 dan Beroperasi di tahun 2011, Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Sumber Sejahtera Desa Nagrog, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sudah melayani dan menghimpun sekitar 3.000 anggota/nasabah.

Bumdes Desa Nagrog yang saat ini sudah memiliki aset Rp 1,9 miliar ini, dengan tujuan untuk pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Selain itu untuk memutus atau menghentikan kebiasaan warga yang pinjam uang ke bank keliling atau rentenir.

Sebelumnya, bumdes tersebut memiliki modal awal Rp 125 juta dari total anggaran Rp 175 juta.

Kepala Desa Nagrog Gungun Sugandi mengatakan, dari  3.000 anggota bumdes itu, sebanyak 1.225 anggota aktif dan sisanya anggota pasif. "Anggota aktif itu rajin menabung, begitu pun disaat pinjam yang bersangkutan lancar melaksanakan pembayaran cicilan kredit setiap bulannya. Anggota pasif, tak rutin menabung setiap bulannya," kata Gungun kepada galamedianews.com di ruang kerjanya di Desa Nagrog, Jumat (11/1/2019).

Menurut Gungun, ribuan anggota bumdes tersebut, banyak yang menjadi pelaku usaha home industri, warungan/toko, usaha kecil menengah, para pedagang kaki lima dan pelaku usaha kecil lainnya.

"Untuk mengembangkan usahanya, mereka mendapatkan pinjaman kredit dari jutaan rupiah sampai Rp 20 juta per orangnya," kata Gungun.

Karena melibatkan banyak anggota, imbuh Gungun, Bumdes Desa Nagrog sejak 2017 memiliki gedung sendiri. Kepemilikan gedung bumdes di Komplek Perumahan Bumi Duta Persada RT 02/RW 05 Desa Nagrog itu dari pengadaan hasil usaha bumdes dengan nilai Rp 370 juta.

Lebih lanjut Gungun mengatakan, bumdes yang dikelolanya mengutamakan kontribusi sosial untuk masyarakat Desa Nagrog. Kemudian dalam pengelolaannya diwajibkan mengeluarkan zakat 2,5 persen yang disisihkan dan disimpan di kas untuk kepentingan sosial bagi masyarakat yang tak mampu.

"Pada 2018 lalu, bumdes mengeluarkan anggaran sosial sebesar Rp 51 juta untuk membantu masyarakat miskin. Di antaranya untuk rehab rumah tidak layak huni, anak sekolah dari keluarga tak mampu, peringatan maulid nabi, peringatan hari besar nasional. Dari setiap pengajuan untuk kegiatan sosial itu ada surat pengantar dari RT dan RW setempat maupun pihak lainnya," urainya.

Menurutnya, keuntungan hasil usaha bumdes itu dimasukkan dalam pendapatan asli desa (PAD). PAD desa itu, katanya, sebesar Rp 60 persen untuk pengadaan keperluaan desa atau belanja publik dalam penyelenggaraan pemerintah desa. "Sebesar 40 persen untuk tambahan penghasilan perangkat desa," katanya.


Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR