Ratusan Warga Langensari Protes Keluhkan Bau Menyengat

Bandung Raya

Selasa, 8 Januari 2019 | 21:33 WIB

190108213429-ratus.jpg

Engkos Kosasih

SEKITAR 100 kepala keluarga (KK) di Kampung Cisaradan Girang RT 01/RW 01, Desa Langensari, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung mengeluhkan bau menyengat dari rumah potong unggas Pasar Hewan Majalaya, Selasa (8/1/2019) malam.

Lokasi rumah potong unggas itu berdekatan dengan rumah warga, meski hanya dibatasi Sungai Cikaro dan masuk Desa Majasetra, Kecamatan Majalaya.

Ratusan warga tampak berkumpul di belakang rumah potong hewan tersebut, menuntut kepada pihak pengelola rumah potong unggas untuk menghentikan operasional pemotongan unggas. Selain itu, mereka juga menuntut ganti rugi Rp 20 juta/KK. Pasalnya, ratusan warga yang menempati permukiman penduduk di belakang rumah potong hewan itu sudah dirugikan dampak dari bau menyengat yang berasal dari pencemaran polusi udara yang berasal dari rumah potong unggas tersebut.

Kepala Desa Langensari Agus Kusumah didampingi Babinsa setempat mendampingi warga dan membicarakan keluhan warga tersebut.

Ahi (58) dan Wahab (50) warga setempat mengeluhkan bau menyengat dari pembuangan atau sisa pengolahan ayam potong di rumah potong unggas tersebut.

"Saya sudah tiga kali menyampaikan keluhan dan masuk ke lokasi rumah potong hewan tersebut. Tapi kurang mendapat tanggapan dari pihak pengelola. Bahkan, ada di antara pihak yang bekerja di dalam Pasar Hewan Majalaya itu sempat menyuruh saya untuk pindah rumah," kata Ahi kepada galamedianews.com, Selasa malam.

Menurut Ahi, bau menyengat dari limbah sisa pemeliharaan ayam potong tersebut sudah berlangsung selama 2 sampai 3 bulan ini.

"Bau menyengat yang dirasakan warga, selama Pasar Hewan Majalaya ini berdiri dan operasional. Sebelumnya, warga sempat melakukan aksi protes mengeluhkan persoalan yang sama beberapa waktu lalo," terangnya.

Ahi mengatakan, sampai saat ini belum ada konvensasi dari pihak pengusaha yang mengelola rumah potong unggas tersebut. "Yang dirasakan warga hanya bau menyengat," keluhnya.

Warga lainnya, Wahab mengeluhkan, setiap pengiriman ayam ke lokasi rumah potong unggas itu mencapai ribuan ekor.

"Kami memperkirakan pemeliharaan ayam potong di rumah potong unggas itu tiap hari. Soalnya, bau menyengatnya dirasakan warga tiap hari," keluh Wahab.

Wahab berharap persoalan yang selama ini dikeluhkan warga bisa segera diselesaikan. "Kami menuntut ganti rugi Rp 20 juta/KK," ucapnya.

Wahab menuturkan, dampak dari bau menyengat itu, warga merasakan sesak napas dan selera makan hilang. "Bau menyebgat itu terus berulang kali. Lama-lama paru-paru warga yang terdampak bisa habis," keluhnya.

Kepala Desa Langensari Agus Kusumah mengatakan, rumah potong unggas ini kembali operasional selama 2-3 bulan ini setelah ada investor baru, sebelumnya sempat terhenti.

"Saya sebagai kepala desa sempat protes kepada pihak pengelola rumah potong unggas karena merugikan warga kami. Tapi protes kami tidak didengar," kata Agus.

Agus sempat meminta kepada pihak pengelola rumah potong unggas untuk memproses pengolahan limbah dari sisa pemeliharaan ayam potong tersebut.

"Jangan sampai limbah dari sisa operasional rumah potong unggas terus menimbulkan polusi udara dan bau menyengat yang dikeluhkan warga sekitar," katanya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR