Ini Penyebab Tanah Amblas di Tengah Jalan Cantilan Kabupaten Bandung

Bandung Raya

Minggu, 9 Desember 2018 | 21:24 WIB

181209212613-ini-p.jpg

Engkos Kosasih

LUBANG berukuran besar di ruas Jalan Cantilan-Gunung Pancir Kampung Palung Pusing RT 03/RW 09 Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung yang terjadi pada Minggu (9/12/2018) pukul 13.10 WIB sempat menggegerkan masyarakat sekitar.

Lubang besar berukuran lebar 10-20 meter dan kedalaman 10-15 meter itu akibat amblasnya permukaan tanah yang di atasnya merupakan jalan penghubung dari Ciharuman menuju Jalan Terusan Nanjung atau sebaliknya.

Pada bagian jalan yang amblas tersebut sudah dipasang garis polisi untuk mencegah adanya korban jiwa. Jalan amblas yang merupakan status jalan kabupaten itu sudah tidak bisa dilalui kendaraan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung langsung menerjunkan personilnya ke lokasi kejadian untuk mengetahui potensi ancaman yang bakal terjadi di sekitar lokasi tanah amblas tersebut.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Bandung H. Akhmad Djohara melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung Hendra Hidayat menegaskan, setelah mendapat informasi kejadian tanah amblas di ruas jalan Desa Jelegong tersebut, sejumlah personel BPBD langsung diterjunkan ke kokasi kejadian.

"Setelah melihat kondisi di lapangan dan bagaimana peristiwa terjadinya pergerakan atau pergeseran tanah itu, BPBD akan segera melayangkan surat permohonan ke Pusat  Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi untuk mengkaji terjadinya tanah amblas tersebut," kata Hendra saat dihubungi "GM" melalui telepon selularnya, Minggu malam.

Menurutnya, setelah surat permohonan itu dilayangkan,  selama 2-3 hari, diperkirakan dari Tim Vulkanologi akan turun ke lokasi tanah amblas tersebut untuk melaksanakan kajian.

"Dari hasil kajian Vulkanologi itu nantinya akan keluar rekomendasi yang harus dilaksanakan BPBD, pasca terjadinya tanah amblas," katanya.

Hendra mengatakan, sambil menunggu hasil kajian dari Tim Vulkanologi, BPBD berusaha untuk melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, di antaranya dengan aparat desa maupun dengan jajaran muspika setempat.

"Saat kami melakukan penanganan awal tanah amblas itu, mendapat informasi dari warga sekitar. Warga menyebutkan, sejak tahun 1980-an, di sekitar lokasi tersebut sempat ada pengurukan atau pematangan tanah. Karena sebelumnya, sejak puluhan tahun di sekitar lokasi tanah amblas bekas penambangan pasir dengan cara digali sehingga terjadi pengosongan tanah. Di lokasi bekas galian pasir itu, didirikan bangunan, di antaranya dibangun jalan di atas bekas galian pasir," jelasnya.

Lebih lanjut Hendra menjelaskan, di lokasi tanah amblas itu, ada bagian ruang di bawah tanah. Kemudian ditemukan pula ada aliran air di dasar tanah setelah terjadi tanah amblas. Aliran air bawah tanah itu diduga kuat mengikis bagian bawah tanah, sehingga tanah atau jalan aspal yang ada di bagian atasnya amblas.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bandung H. Agus Nuria melalui Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Bandung Achmad Kosasih mengaku, sudah melakukan langkah-langkah awal dalam penanganan pasca peristiwa penurunan tanah tersebut.

"Upaya sementara sudah kami garis police line. Supaya tidak ada korban pasca penurunan tanah tersebut," jelasnya.

Dinas PUPR, imbuh Achmad, mendapat kabar penyebab penutprunan tanah itu, setelah sebelumnya pada 40 tahun silam ada penambangan pasir untuk bahan teraso.

"Dampak dari penambangan pasir itu, mengakibatkan kondisi di bawah jalan seperti sarang laba-laba banyak lobang memanjang," jelasnya.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR