181011175227-menri.jpg

Engkos Kosasih

Menristekdikti: Pendidikan di Indonesia Belum Mengikuti Perkembangan Teknologi dan Informasi

Bandung Raya

Kamis, 11 Oktober 2018 | 17:51 WIB

Wartawan: Engkos Kosasih

MENTERI Riset, Teknologi dan Perdidikan Tinggi (Menristekdikti) RI Prof. H. Muhammad Nasir menilai, pendidikan di Indonesia belum mengikuti perkembangan teknologi dan informasi yang berkembang saat ini.

"Seharusnya, perkembangan teknologi dan informasi harus dimanfaatkan dengan baik untuk meningkatkan kualitas pendidikan," kata Nasir saat menghadiri kuliah umum dengan tema enterpreneurship di era revolusi industri di Kampus STKOM dan STIBANKS Al Ma'soem Jalan Raya Cipacing, Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Kamis (11/11/2018). Kuliah umum itu dihadiri para mahasiswa STKOM, STIBANKS Al Ma'soem, siswa SMA Al Ma'soem, akademisi dan penggiat pendidikan lainnya.

Didampingi Anggota DPR RI H. Cucun Ahmad Syamsurijal, dan pihak Yayasan Pendidikan Al Ma'soem H. Ceppy Nasahi Masoem, H. Dadang M. Masoem dan pihak lainnya, Nasir mengatakan, Indonesia dengan jumlah penduduk yang begitu besar dan mencapai 262 juta jiwa yang tersebar di sejumlah pulau dan kepulauan itu, menyebabkan proses pendidikan belum terjangkau dengan baik.

Ia menyebutkan angka partisipasi kasar (APK) Indonesia dengan penduduk usia antara 18-23 tahun yang kuliah di perguruan tinggi baru mencapai 31,5 persen. Jauh tertinggal dari Malaysia yang sudah mencapai 37 persen, bahkan mendekati 40 persen.

"Thailand mencapai 51 persen, Singapura 82 persen, Korea Selatan 92 persen," kata Nasir.

Oleh karena itu, Nasir mendorong Yayasan Al Ma'soem untuk bergerak cepat ke arah sana, yaitu mengikuti perkembangan informasi dan teknologi sekarang ini. "Diharapkan bisa menjadi mahasiswa yang baik dan mengelola pendidikan secara modern," harapnya.
Nasir juga mendorong Yayasan Pendidikan Al Ma'soem untuk meningkatkan kualitas pendidikan menjadi Universitas Al Ma'soem, dari sebelumnya STKOM dan STIBANKS Al Ma'soem. Sebagai bentuk dukungan Nasir, dirinya melakukan penandatanganan prasasti perluasan pembangunan Kampus Al Ma'soem menjadi Universitas Al Ma'soem.

Menurutnya, jika pertemuan dirinya dengan pihak Al Ma'soem lebih cepat atau sejak dulu, pendirian Universitas Al Ma'soem akan lebih cepat. Namun ia mengakui baru kali ini membahas keinginan Yayasan Pendidikan Al Ma'soem yang mengharapkan berdirinya Universitas Al Ma'soem.

"Sebenarnya tak sulit untuk menjadi universitas. Tinggal diajukan saja. Kalau kita serius pasti bisa," katanya.

Nasir mengharapkan, lulusan STKOM dan STIBANKS Al Ma'soem bisa menyiapkan generasi muda atau lulusan berkualitas.

Ia juga menyinggung tentang daya saing Indonesia dengan negara lain rendah, ada sejumlah penyebabnya. "Pendidikan tinggi kita masih cenderung masalah gelar. Di Indoneaia itu, orangnya gila gelar tanpa melewati proses pembelajaran yang baik," ungkapnya.

Untuk itu, Menteri berharap Al Masoem bisa menghasilkan SDM berkualitas dalam menghadapi era revolusi industri. "Kami berharap, lulusan perguruan tinggi pencipta lapangan kerja. Bukan pemburu atau pencari lapangan kerja," harapnya.

Dikatakannya, negara maju bukan penduduk yang besar. Negara kecil seperti Singapura bisa maju karena menerapkan berbagai inovasi. "Kami berharap di STKOM dan STIBANKS Al Ma'soem ada inovasi, dan lulusannya berkualitas," katanya.

Pihaknya pun berusaha untuk menghilangkan dikotomi antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Pasalnya, PTN jika tak berkualitas akan ditinggalkan mahasiswa, sebaliknya PTS berkualitas akan diburu generasi muda.

Perwakilan Yayasan Al Masoem DR. Ir. H. Dadang M. Masoem mengharapkan, dengan kehadiran Menteri Muhammad Nasir dapat mendorong berdirinya Universitas Al Ma'soem.

"Ini momentum yang sangat baik. Kedatangan Pak Menteri bisa memberikan hikmah yang cukup besar bagi Yayasan Pendidikan Al Masoem," kata Dadang.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR