181010174139-kemar.jpg

Agus Somantri

Kemarau Panjang Tak Ganggu Produksi Padi Jabar

Bandung Raya

Rabu, 10 Oktober 2018 | 17:39 WIB

Wartawan: Anthika Asmara

KEMARAU di Jawa Barat dari mulai bulan Juli hingga Oktober tidak mengurangi target produksi padi meskipun beberapa daerah terkena puso.

Puso di Jawa Barat tercatat sejak awal musim kemarau 2018 (April - September 2018) Kumulatif Luas Kekeringan padi sawah, Puso 6.449 ha. Kemudian yang terkena 11.425 ha masih dalam katagori ringan, 4.852 ha kategori sedang dan 3.254 ha berat, jadi total yang terkena termasuk puso seluas 25.862 ha.

Kepala dinas pertanian Jawa Barat Hendi Jatnika mengatakan, jika produksi padi di Jawa Barat aman karena ada yang di kategorikan standing crop yang ada atau tanaman yang ada disawah tercarat 240.000 ha lebih, jadi yang puso kurang lebih berkisar 2%.

"Jadi pada bulan September dan awal Oktober masih ada petani padi yang berhasil memanen padi dan padi yang puso persentasinya sangat kecil dibandingkan dengan yang berhasil panen," kata Hendi, Rabu (10/10).

Kendati demikian Hendi menjelaskan, Kabupaten Indramayu sebagai central padi memang mengalami puso paling besar karena luas lahan sawah paling luas di Jawa Barat, terlebih aera pesawahan di Indramayu belum terpasom air secara maksimal.

"Tapi jika nanti Jati Gede sudah berjalan optimal Indramayu dalam satu satuhun bisa panen dua kali, kami sangat menunggu pasokan air dari Jati Gede yang sekarang baru sampai Subang," ujarnya.

Selain itu menurut Hendi, ketika terjadi musim kemarau seperti saat ini sawah yang kekeringan pasti akan menggunakan alat penyedot air dari sumber air terdekat guna menyelematkan padi yang masih ada di sawah.

"Biasa dinas instansi terkait di masing-masing kabupaten kota akan menggunakan alat untuk mengairi sawah hingga padi aman untuk di panen," ucapnya.

Kemudian Hendi menuturkan, musim kemarau yang terjadi juga pada saat musim panen, lanjut dia, imbauan untuk pengantin tanaman ke palawija itu terus digelontorkan oleh pihaknya dan pemerintah kabupaten/kota. Akan tetapi jika dilakukan penggantian tanaman saat ini juga tidak mungkin.

"Pengganti tanaman itu ketika ada curah hujan minimalnya dua kali, petani baru bisa menang palawija kalau sekarang itu terlambat," ucap.

Akan tetapi lanjut Hendi, dibeberapa daerah penghasil jagung seperti Garut dan Tasikmalaya petani sedang menunggu hujan minimalnya dua kali untuk kemudian ditanam jagung.

"Jadi kalau mau tanam palawija juga tetap harus nunggu hujan dulu, sekarang kan kemarau tidak mengganggu pola tanam padi jadi tidak usah ada pengganti tanaman," ujar Hendi.

Kemudian Hendi menambahkan, sekarang puncak hujan diprediksi bulan Desember jadi petani yang mengalami kekeringan saat ini tinggal menunggu bulan November atau Desember untuk kembali menanam padi.

"Awal Desember bisa mulai tanaman padi lagi ketika intensitas curah hujan mulai meningkat," tuturnya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR