180611141143-paham-radikalisme-di-kampus-seperti-gunung-es.jpg

net

Paham Radikalisme di Kampus Seperti Gunung Es

Bandung Raya

Senin, 11 Juni 2018 | 14:11 WIB

Wartawan: Adi Permana

ANALIS Kebijakan Pemerintahan Universitas Jenderal Ahmad Yani, Wawan Gunawan memberikan tanggapan terkait rilis tujuh kampus yang terpapar radikalisme yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Menurutnya, fenomena tersebut seperti gunung es.

"Pandangan saya sih itu seperti gunung es saja, lebih banyak sebetulnya. Itukan yang dipermukaan hanya perguruan tinggi negeri, apakah BNPT juga menemukan survei atau studi terhadap perguruan tinggi swasta dari yang besar ke yang kecil? Saya pikir lebih," katanya melalui sambungan telepon, Senin (11/6/2018).

Menurut pria yang akrab disapa Wagoen itu, justru menilai baik rilis kampus terpapar radikalisme. Sehingga kampus yang bisa berbenah dan melakukan upaya preventif lebih. Bisa jadi katanya, selama ini pengawasan terhadap kegiatan mahasiswa kurang.

"Tanggapan saya justru senang, bahkan ada kan rilis masjid-masjid yang terpapar radikalisme, artinya bukan hanya Jakarta yang terpapar di banyak daerah juga bisa jadi ada," katanya.

Dijelaskan Wagoen, dengan adanya rilis tersebut, kampus ITB dan UGM bisa memberikan respon. UGM misalnya telah melakukan tindakan terhadap dua dosen yang disinyalir menolak ideologi Pancasila dan aktif di HTI. Begitu juga dengan ITB yang sudah menonaktifkan kegiatan organisasi HATI yang berafiliasi dengan HTI. Seperti diketahui HTI sendiri telah dibubarkan dan dilarang oleh pemerintah untuk berkegiatan.

Menurutnya BNPT sengaja hanya memberikan informasi di umum agar kampus bisa menyampaikan kepada publik maksud dari rilis terpapar tersebut. Sehingga kampus bisa memberikan respon dan masyatakat bisa tahu langkah antisipasinya. "Kalau BNPT merilis kampus terpapar begini-begini, nanti masyarakat akan berpikir BNPT tahu tapi lho kenapa pihak kampus tidak tahu," katanya.

Dia khawatir masuknya paham radikalisme ke dalam kampus karena pengawasan kegiatan kemahasiswaan lemah. Oleh karenanya dia menyarankan agar peran dan fungsi dari kemahasiswaan bisa lebih optimal dalam membina dan membimbing kegiatan mahasiswa.

"Kampus secara internal harus bertanggung jawab. Pembantu rektor bertanggung jawab membina seluruh aktivitas mahasiswa di dalam kampus. Saya khawatir ini adalah tidak diasuhnya mahasiswa oleh organ yang berwenang mengasuhnya," katanya.

Wagoen juga menyampaikan, bahwa yang dibutuhkan saat ini bukan kurikulum pendidikan agama untuk menangkal radikalisme, tapi pendidikan beragama. Yakni bagaimana sesama pemeluk agama bisa  hidup rukun.

"Karena beda pendidikan agama dan beragama. Bergaul dengan agama yang berbeda harus bagaimana, itu kan pendidikan beragama. Kalau pendidikan agama dikembalikan ke lembaga keagamaan. Tapi di sekolah itu pendidikan beragama. Saling hargai diajarkan," pungkasnya.



Editor: Dadang Setiawan



Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR