180610154130-kedepan-profesi-public-relation-digital-makin-diperlukan.jpg

net

Kedepan, Profesi Public Relation Digital Makin Diperlukan

Bandung Raya

Minggu, 10 Juni 2018 | 15:41 WIB

Wartawan: Hj. Eli Siti Wasliah

SEIRING perkembangan teknologi komunikasi pada era milenial ini, peran digital public relation sangat dibutuhkan. Peran mereka untuk menghandle komentar atau citra negatif.

Citra negatif pada zaman milenial ini langsung terdeteksi karena komentar itu berada di media sosial.

“Dengana adanya digital publik relation ini, komentar negatif bisa langsung terklarifikasi. Ini cukup efektif,” kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University,  Ade Irma Susanty kepada wartawan, Minggu (10/6/2018).

Dikatakan, 10 tahun kedepan profesi public relation digital ini akan masih akan diperlukan oleh perusahaan atau instansi. Hal ini seiring dengan perkembangan teknologi.

“Anak-anak masih fokus pada teknologi karena mereka itu adalah generasi gadget, sehingga akan mengalihkan konten-konten yang bersifat konvensional ke digital. Dengan begitu, digital public relation akan dibutuhkan,” kata Ade.

Peluang inilah, lanjut Ade yang diambil oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University untuk membuka Program Studi Public Relation Digital. Pihaknya membuka prodi tersebut pada tahun 2017.

Ia menyebutkan, angkatan pertama jumlah mahasiswanya mencapai 88 orang. Jumlah tersebut melebihi yang ditargetkan sebelumnya. Pihaknya menargetkan untuk dua kelas yaitu 80 orang.

“Tahun ini kami menargetkan 4 kelas atau sekitar 160. Saat ini yang sudah mendaftar ada sekitar 130 orang, padahal masih ada beberapa gelombang pendaftaran mahasiswa baru. Jadi kami optimis target tahun akan tercapai,” tegasnya.

Pihaknya juga berharap prodi baru ini bisa melebihi atau minimal sejajar dengan prodi lainnya.

Disinggung kurikulum public relation digital Ade menambahkan akan terus memperbarui kurikulum sesuai dengan kebutuhan pasar atau industri. Selama ini juga kurikulum dalam setiap semesternya selaku dievaluasi.

“Setiap semester kurikulum itu selalu dievaluasi, karena harus sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar. Misalnya saat ini memasuki industri 4.0 maka, sistem pengajaran kita juga disesuaikan dengan hal tersebut,” jelasnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR