Ini Cara TNI Tangkas Dokrin Paham Radikalisme dan Terorisme

Whisnu Pradana

Ini Cara TNI Tangkas Dokrin Paham Radikalisme dan Terorisme

Bandung Raya

Selasa, 15 Mei 2018 | 18:10 WIB

Wartawan: Whisnu Pradana

DI tengah maraknya paham radikalisme dan terorisme yang mendoktrin kaum muda, khususnya mahasiswa di setiap universitas di Jawa Barat, Tentara Nasional Indonesia (TNI) terus menyempurnakan doktrin TNI yang disebut Tri Dharma Eka Karma (Tridek).

Doktrin Tri Dharma Eka Karma itu berfungsi untuk menangkal dan mengantisipasi berkembangnya paham sayap kiri yang berupaya memecah belah kerukunan bangsa.

Dalam penangkalan paham radikalisme melalui Tridek tersebut, jajaran TNI memiliki tiga tugas dan fungsi, antara lain fungsi penangkalan, fungsi penindakan, dan fungsi pemulihan.

Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Letjen TNI Tatang Sulaiman, mengungkapkan peran penting TNI AD dalam menyebarkan dan menanamkan paham Tridek kepada masyarakat agar bisa terhindar dari paham radikalisme.

"Sebenarnya TNI AD memiliki struktur dan kemampuan yang mumpuni sehingga bisa melakukan penangkalan radikalisme. Digelarnya sampai ke kampung dan desa, karena paham radikalisme berpotensi berkembang di desa dan kecamatan," ujar Tatang di Kampus Unjani, Selasa (15/5/2018).

Untuk menangkal paham radikalisme di desa dan kecamatan tersebut, tutur Tatang, jajaran TNI AD melibatkan Bhabinsa dan Danramil melalui pembinaan komunikasi sosial dan melalui kesadaran bela negara.

Hal tersebut, lanjutnya, karena di lingkungan masyarakat itu ada yang memiliki paham kiri seperti adanya kelompok yang memiliki pemahaman radikalisme dan paham lainnya.

"Jadi masayarakat yang pahamnya aneh-aneh itu atau mengarah ke paham radikalisme, harus dilakukan pembinaan supaya pahamnya itu tidak berkembang menjadi tindakan yang merugikan" tuturnya.

Tatang mengatakan, atas hal itu, jajaran TNI akan meningkatkan peran penangkalan dan penindakan paham radikalisme yang telah siap untuk dilakukan.

Hal itu, kata Tatang, karena satuan komando kewilayahan seperti Kodam menjamin stabilitas kewilayahannya yang harus aman dan kondusif melalui peran dan tugasnya.

Sementara untuk menangakal radikalisme di lingkungan mahasiswa di kampus, menurut Tatang, hal tersebut merupakan tugas rektorat karena universitas tugasnya tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang cerdas.

"Selain cerdas, lulusan dari setiap universitas juga harus berkarakter. Di dalamnya harus memiliki integritas tinggi, kepatuhan, dan itu merupakan tanggung jawab semua pihak juga," katanya.

Terakhir, Tatang turut menyayangkan kejadia bom bunuh diri di Surabaya yang membuat Indonesia tengah berduka, dengan meninggalnya belasan orang dan puluhan lainnya luka-luka.

"Turut berduka cita dengan kejadian di Surabaya. Itu salah satu cara untuk memecah belah kerukunan dan kebersamaan di Indonesia," tandasnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR