Mendengar Cerita Ibu Korban Miras Oplosan, Rachel Maryam Meneteskan Air Mata

istimewa

Anggota Komisi I DPR RI, Rachel Maryam Sayidina (tengah) menyimak cerita dari Sriwanti (kiri), ibu Sandy Rahma Fauzy (14) korban minuman keras (miras) oplosan di Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Minggu (15/4/2018).

Mendengar Cerita Ibu Korban Miras Oplosan, Rachel Maryam Meneteskan Air Mata

Bandung Raya

Senin, 16 April 2018 | 19:05 WIB

Wartawan: Endan Suhendra

ANGGOTA Komisi I DPR RI, Rachel Maryam Sayidina tak bisa menahan derai air mata saat mendengar cerita dari Sriwanti, orangtua korban minuman keras (miras) oplosan di Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Rachel yang menemui Sriwanti di rumahnya di Kampung Nagrog, Desa Babakan Peuteuy, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Minggu (15/4/2018), mengaku merasakan betul apa yang dirasakan Sriwanti, ibu dari Sandy Rahma Fauzy, pelajar kelas 2 SMP yang harus meregang nyawa di usianya yang masih sangat muda, 14 tahun, setelah keracunan akibat mengonsumsi miras oplosan.

Sandy merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, sehari-harinya mereka diurus oleh Sriwanti seorang diri karena sudah berpisah dari suaminya. Dari penuturan sang ibunda, Sandy merupakan anak yang baik dan tidak aneh-aneh. Namun karena pergaulan dan lingkungan, menyebabkan Sandy bisa kenal dengan miras.

Kepada Rachel, Sriwanti menceritakan seperti apa keseharian Sandy di rumah. Sriwanti mengaku, kaget karena sehari-harinya, Sandy tergolong anak yang cukup rajin beribadah. “Kalau di rumah kelihatan gak ada yang aneh dari Sandy. Dia anaknya tergolong rajin salat dan beribadah di masjid. Makanya saya juga kaget dan gak nyangka,” ungkap Sriwanti sambil meneteskan air mata.

Menyimak penuturan dari Sriwanti, Rachel pun nampak sangat sedih dan berusaha menenangkan. Sosok kelahiran Bandung, 20 April 1980 tersebut, berharap Sriwanti lebih tabah dalam menghadapi cobaan. Dan, sebagai wakil rakyat, Rachel berjanji untuk ikut mendesak pemerintah merumuskan peraturan yang lebih bisa mempersempit ruang peredaran miras di masyarakat.

“Teteh (saya) tidak sanggup membayangkan betapa sedih dan terpukulnya ibu Sriwanti yang baru saja ditinggalkan anak pertamanya Sandy Rahma Fauzy yang baru duduk di kelas 2 SMP. Semuanya terasa bercampur aduk dalam benak teteh, tapi yang jelas teteh merasakan betul apa yang dirasakan Ibu Sriwanti,” ungkap Rachel.

“Rasa sedih bercampur marah muncul di perasaan teteh ketika bertemu dengan Ibu Sriwanti tadi. Sebagai seorang ibu yang memiliki anak yang usianya hampir sama dengan Sandy, teteh ikut membayangkan dan merasakan betapa sedihnya perasaan seorang ibu yang kehilangan anaknya untuk selama-lamanya,” sambung sosok yang pernah membintangi sejumlah film layar lebar tersebut.

Rachel mengungkapkan kunjungannya menemui keluarga para korban miras oplosan di Kabupaten Bandung ini tak hanya jadi bentuk tanggungjawab sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) 2 yang mencakup Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Juga merupakan wujud kepedulian sebagai sesama manusia dan orangtua.

Rachel mengungkapkan, selain peran aktif dari pihak terkait, khususnya aparat keamanan untuk mencegah peredaran miras di tengah masyarakat. Orangtua, kata Rachel, harus bisa menerapkan pola pengasuhan yang tepat bagi anak-anaknya. Selain itu diperlukan juga peran dari lingkungan masyarakat sekitar untuk mencegah peristiwa serupa terjadi lagi di kemudian hari.

“Tidak cukup bagi kita memberikan anak pendidikan di sekolah saja, pendidikan di rumah melalui pola pengasuhan yang tepat jauh lebih penting untuk pendidikan karakter anak. Terlepas dari itu kita semua tentu berharap kejadian ini merupakan kejadian yang terakhir, semoga kejadian ini dapat meningkatkan kewaspadaan kita untuk lebih mengawasi lingkungan anak-anak kita agar tidak terjerumus ke arah yang buruk,” papar Rachel.

Tak hanya merengut nyawa korbannya, miras oplosan pun telah merengut kebahagian dari orang-orang yang telah ditinggalkan oleh para korban. “Seperti Ibu Sriwanti ini, beliau tentunya sangat terpukul dan sedih karena harus kehilangan anak tercintanya. Lalu ada juga istri yang harus kehilangan suaminya, dan anak yang harus kehilangan ayahnya,” imbuh Rachel.

Karena itu Rachel kembali mengingatkan pentingnya peran seluruh masyarakat untuk memerangi peredaran miras lewat kampanye-kampanye. “Termasuk kampanye di media sosial, mari kita bersama-sama rutin menggelorakan kalimat #saynotoalcohol #tolakmiras #jagakeluarga #jagaanakbangsa. Terlepas dari miras itu ilegal atau legal (berizin), yang jelas mengonsumsi miras itu sangat-sangat tidak baik karena nyawa bisa menjadi taruhan,” cetus Rachel.

Seperti diketahui awal bulan April ini, masyarakat digemparkan peristiwa banyaknya korban miras oplosan di sejumlah wilayah di Jawa Barat yang mencapai ratusan orang. Tak hanya di Jabar, korban miras oplosan pun berjatuhan di DKI Jakarta. Karena banyaknya korban ini, pemerintah telah menetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) Sosial berdasarkan Permenkes No 2 tahun 2013.

Di Jawa Barat, berdasarkan data terakhir yang dirilis Polda Jabar hingga Minggu (15/4/2018), jumlah korban meninggal akibat miras oplosan di Jabar mencapai 61 orang. Jumlah korban tewas terbanyak di Kabupaten Bandung yakni 49 orang, 42 orang korban di antaranya di Kecamatan Cicalengka. Sementara sisanya di Kabupaten Ciamis, Cianjur dan Sukabumi.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR