180312171344-ini-alasan-kenapa-bupati-bandunfg-belum-tetapkan-status-tanggap-darurat-bencana-banjir.jpg

Humas Kab. Bandung

Ini Alasan Bupati Bandung Belum Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir

Bandung Raya

Senin, 12 Maret 2018 | 17:13 WIB

Wartawan: Rahmat Sudarmaji

Meski sudah dianggap layak untuk ditingkatkan status kebencanaan menjadi tanggap darurat bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung hingga saat ini belum  meningkatkan status kebencanaan banjir di Bandung selatan.

Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Bandung masih menetapkan status kebencanaan di Kabupaten Bandung dalam status siaga darurat bencana

"Sebenarnya kriteria penetapan peningkatan status kebencanaan dari siaga darurat menjadi tanggap darurat sudah terpenuhi, karena syarat pengungsi sudah ada dan pengungsi masih bertahan di lokasi pengungsian. Itu kan bukti. Akan tetapi, tentang status kebencanaan kan sedang diproses dulu, ada prosedur yang harus kita tempuh. Barangkali nanti akan dtindaklanjuti dengan rapat gabungan. Sehingga nanti ada  keputusan bersama (penetapan status kebencanaan)," ungkap Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Akhmad Djohara, Senin (12/3/2018).

Bahkan, lanjut dia, setelah pihaknya memantau lebih dekat ke lokasi banjir, kondisi di lapangan ini menjadi bahan rapat internal di BPBD untuk disampaikan kepada pimpinan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung.

Masih dikatakan Akhmad, memang pada dasarnya terdapat wilayah yang sudah lama tergenang banjir luapan Sungai Citarum sejak akhir Februari 2018, hal itu menjadi salah satu kriteria bagi pemerintah untuk penetapan status kebencanaan ini.

Seperti halnya yang dialami warga di Kampung Ciputat Kelurahan Andir Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung.

Disinggung mengenai adanya keluhan warga terdampak banjir yang mendesak kejelasan status kebencanaan yang saat ini diterapkan sudah tidak relevan, Akhmad menjelaskan, pihaknya akan memantau setiap perkembangan yang terjadi. Bahkan bagi Pemerintah Kabupaten Bandung, dikatakan Akhmad, tidak menjadi persoalan jika saat ini status kebencanaannya ditingkatkan menjadi tanggap darurat bencana.

"Sebetulnya itu (lama genangan banjir) juga bisa menjadi bahan pertimbangan bagi kami untuk peningkatan status kebencanaan.

Bahkan kami sudah berkonsultasi dengan BNPB untuk peningkatan status bencana ini sepanjang syarat-syarat peningkatan status memenuhi, ya tidak menjadi masalah untuk ditingkatkan menjadi tanggap darurat," kata dia.

Selain itu, lanjut Akhmad, pihaknya pun akan berkoordinasi dengan Badan Meterorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait perkembangan cuaca. Dibutuhkannya keputusan bersama penetapan status kebencanaan ini, lanjut Akhmad, diharapkan nantinya akan menjadi tanggung jawab bersama.

"Agar lebih kompak  dalam hal penangangan kebencanaan di Kabupaten Bandung ini. Diharapkan, keputusan penetapan status kebencanaan ini dapat diputuskan dalam beberapa hari ke depan. Kalau hasil rapat gabungan itu memutuskan 1 x 24 jam tanggap darurat, ya kita harus laksanakan," kata dia.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun di lapangan, saat ini genangan banir masih terjadi di 3 kecamatan di wilayah Bandung selatan yakni di Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot, dan Bojongsoang. Jumlah pengungsi saat ini sebanyak 2.225 orang dewasa, lanjut usia (205 orang), balita (205 orang), ibu hamil (19 orang), anak-anak (197 orang), dan ibu menyusui (62 orang). Jumlah rumah yang terendam banjir dari 3 kecamatan tersebut sebanyak 6.361 rumah, bangunan sekolah (7 bangunan), fasilitas umum (8 gedung), dan 36 tempat ibadah.

Diberitakan sebelumnya, warga terdampak banjir luapan Sungai Citarum mendesak Pemerintah Kabupaten Bandung memperjelas status kebencanaan. Pasalnya, hingga saat ini warga terdampak banjir di 3 kecamatan Bandung selatan, sudah tidak bisa berbuat banyak dengan genangan banjir yang selama ini merendam kawasan permukiman mereka.

Seperti halnya dialami warga terdampak banjir di Kelurahan Andir Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung. Wilayah ini menjadi salah satu wilayah yang tergenang banjir terlama dibandingkan dengan wilayah terdampak banjir lainnya. Bahkan, ketinggian banir yang merendam kawasan permukiman mereka mencapai 1 meter dan belum pernah surut.

“Padahal, fakta di lapangan beban psikologis masyarakat sudah terlalu tinggi karena banjir ini sudah terlalu lama. Meski banjir ini sudah lama menggenangi kawasan Bandung selatan, pemerintah masih menerapkan status siaga. Untuk itu, kami mengharapkan kejelasan status bencana ini karena status siaga sudah tidak relevan lagi diterapkan dengan alasan tingginya beban masyarakat terdampak banjir,” ucap seorang warga Kampung Ciputat Yayan. 

Editor: Rahmat Sudarmaji



Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR