Soal Pengolahan Sampah Rumah Tangga, DLHK Kota Bandung Edukasi Masyarakat

Rio Ryzki Batee

Sekertaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung, Dedy Dharmawan memberikan pemaparan pada Pembekalan Pengolahan Sampah Rumah Tangga dan Perkotaan di Kodim 0618/BS, Jln. Bangka, Kota Bandung, Minggu (14/1).

Soal Pengolahan Sampah Rumah Tangga, DLHK Kota Bandung Edukasi Masyarakat

Bandung Raya

Minggu, 14 Januari 2018 | 14:02 WIB

Wartawan: Rio Ryzki Batee

SUNGAI Citarum merupakan sumber air bagi kehidupan masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta. Sayangnya, sungai tersebut menjadi yang terkotor di dunia.

Kesadaran masyarakat menjaga lingkungan dan air dinilai masih kurang. Buktinya, warga di sepanjang bantaran Sungai Citarum masih membuang sampah ke sungai.

Pengolahan sampah dapat dilakukan baik anorganik dan organik agar lebih bermanfaat bagi masyarakat dan berdampak positif bagi lingkungan.

"Kami sebenarnya tengah mencoba mengedukasi masyarakat di Kota Bandung untuk mulai memilah sampah antara organik dan anorganik. Selanjutnya bagaimana mengolah agar bermanfaat dan tidak mencemari lingkungan," kata Sekertaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung, Dedy Dharmawan pada acara pembekalan Pengolahan Sampah Rumah Tangga dan Perkotaan di Kodim 0618/BS, Jalan Bangka, Kota Bandung, Minggu (14/1/2018).

Menurutnya, pengolahan sampah sudah banyak dilakukan. Tapi, katanya, mayoritas untuk sampah anorganik. Sementara untuk sampah organik masih kurang. Padahal, jumlah sampah rumah tangga di Kota Bandung lebih banyak dibanding anorganik.

"Sampah yang dihasilkan per hari berdasarkan data yang kami miliki mencapai 1.500 ton. Sedangkan 63 persennya merupakan sampah rumah tangga. Kalau dibuang ke sungai atau sembarangan dapat menimbulkan bau busuk," katanya.

Dikatakannya, DLH Kota Bandung berusaha mengedukasi dan mensosialisasikan pengolahan sampah rumah tangga untuk menjadi pupuk organik. Sehingga sampah-sampah yang ada sudah dapat habis diolah pada tingkat RW, dan tidak memenuhi TPA atau TPS.

Dedy menuturkan, pupuk organik yang berasal dari sampah rumah tangga, juga memiliki sisi ekonomis. Bahkan sekarungnya memiliki harga sekitar Rp 25 ribu, terlebih pihaknya siap menampung pupuk organik yang dihasilkan oleh masyarakat.

"Pupuk organik ini sudah diuji coba dan hasilnya bagus untuk menyuburkan tanaman dan tanah. Walau baru mulai, tapi saya cek ditingkat RW sudah bisa menghasilkan 50 Kg pupuk perhari," ujarnya.

Dandim 0816/BS Kol. Inf Arfin Dahlan menjelaskan bahwa edukasi dan sosialisasi perlu terus dilakukan kepad masyarakat dalam menyikapi persoalan sampah. Terutama nilai ekonomis yang dapat dimanfaatkan, dibanding membuang sembarangan yang ujungnya mencemari lingkungan

Dikatakannya perlu ada kesinambungan dari berbagai komponen masyarakat baik TNI, Kepolisian, pemerintah, komunitas, warga dan lain sebagainya untuk bertanggung jawab bersama menjaga lingkungan. Dengan demikian, maka baim edukasi dan infrastruktur yang dibangun dapat memberikan hasil yang optimal.

"Kita tidak bisa membuat satu orang berjaga setiap berapa meter di kawasan sungai, tapi diharapkan ada kesadaran dari masyarakat untuk tidak merusak lingkungan. Jadi sangat penting untuk mengedukasi dalam rangka membangun kesadaran tersebut," tambahnya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR