Sekretaris Dinkes Kota Cimahi : Bisa Jadi Pemakaian Vape Lebih Berbahaya dari Rokok

Sekretaris Dinkes Kota Cimahi : Bisa Jadi Pemakaian Vape Lebih Berbahaya dari Rokok

Bandung Raya

Kamis, 7 Desember 2017 | 17:55 WIB

Wartawan: Whisnu Pradana

KEBERHASILAN promosi besar-besaran produsen vape, dengan mengatakan rokok elektrik atau vape bebas tembakau, tanpa nikotin, dan juga dipadu dengan berbagai rasa, membuat setiap orang tertarik untuk menggunakannya.

Kendati harga seperangkat alat vape terbilang cukup mahal, namun hingga saat ini penggunaan vape justru semakin berkembang pesat dan bermuara menjadi trend tersendiri, terutama di kalangan anak muda.

Dibalik ketenaran vape, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Fitriani Manan, mengatakan tidak ada jaminan keamanan bagi penggunanya. Para pengguna vape tidak sadar bahwa menggunakan vape sama saja bahayanya dengan merokok.

"Bisa jadi vape malah lebih berbahaya. Karena kita tidak tahu bahannya dari apa, kandungannya seperti apa, riskan untuk dihisap," ujar Fitriani saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (7/12/2017).

Dijelaskannya, setelah diteliti oleh berbagai pihak, ternyata penggunaan vape justru akan membuat ketagihan, sama seperti rokok. Hal tersebut lantaran nikotin yang terkandung dalam cairan atau liquid vape lebih tinggi.

"Makanya di pusat Quit Tobacco Indonesia (QTI) yang ada di Yogyakarta, tidak diperbolehkan penggunaan vape. Lebih bahayanya lagi, vape sangat mudah diselipkan jenis narkoba ke dalamnya," jelas Fitriani.

Berdasarkan penelitan yang dilakukan baik oleh dokter, Quit Tobacco Indonesia (QTI), dan pihak lainnya, akhirnya membuat Dinas Kesehatan Kota Cimahi harus melakukan revisi Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Dijelaskan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr. Ars Agustiningsih, nantinya, di dalam Perda KTR akan akan diatur juga tentang larangan penggunaan vape atau rokok elektrik. Namun klausul yang menyebutkan mengenai pelarangan vape dikonsumsi di tempat umum justru dihilangkan.

"Dalam Perda KTR tersebut didalamnya juga termasuk peraturan penggunaan vape. Akan ada larangan juga penggunaanya ditempat umum atau sembarang tempat, tapi kemarin diperiksa ternyata klausul tentang pelarangan itu dihapuskan, dan itu yang akan kita diskusikan sekarang," paparnya.

Menyinggung perihal dampak yang akan diterima oleh penggunaan vape, pihaknya menyebutkan, baik perokok atau pengguna vape akan mendapat akibat dengan tingkat bahaya yang sama, namun penggunaan vape cenderung lebih berbahaya.

"Belum tahu persis dampak untuk vapor pasif, tapi jika melihat asapnya yang banyak apakah pembakarannya sempurna atau tidak. Tapi untuk si penghisap sudah jelas akan berdampak buruk," bebernya.

Agustiningsih menuturkan, dirinya sempat menemukan beberapa pasien yang mengaku setelah menghisap vape justru merasakan pusing. Dari kasus itu, Ia menegaskan kepada masyarakat agar tidak percaya jika ada yang mengatakan dengan menghisap vape bisa menghilangkan sesak napas dan penyakit bronkitis.

"Itu salah. Sebenarnya pemakai vape sudah termakan iklan yang begitu besar-besaran. Padahal tetap saja akan merusak paru-paru," pungkasnya.

Editor: H. Dicky Aditya

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR