Abah Tarsa Memilih Bertahan di Gubuk 2x3 Meter

Rio Ryzki Batee

Abah Tarsa Memilih Bertahan di Gubuk 2x3 Meter

Bandung Raya

Jumat, 21 April 2017 | 18:31 WIB

Wartawan: Rio Ryzki Batee

KENDATI Kendati sudah memasuki usia yang hampir seabad dan  keadaan yang memprihatinkan, Abah Tarsa (82), tidak mau berpangku tangan. Dengan bekerja sehari-hari sebagai tukang rongsok, ia menjalani hari dengan penuh semangat.

Walau secara fisik, beliau memiliki kekurangan yakni leher yang tidak sempurna akibat gejala tidak normal seperti kesemutan yang dirasakannya selama sebulan hingga posturnya demikian. Namun sama sekali tidak ada rasa malu atau enggan menyapa orang lain, bahkan ketika disapa dirinya selalu tersenyum.

"Sehari- hari ya menjadi tukang rongsok keliling, kalau dapat bisa buat makan. Kalau ada kayu atau papan bisa buat nambal rumah," ungkapnya di  gubugnya yang tak ubahnya seperti kandang berada di sekitar perumahan elit, tepatnya dibelakang SMPN 49 Bandung, Jln. Antapani, Kota Bandung, Jumat (21/4).

Kendati memiliki kekurangan di bagian lehernya, dapat dikatakan Abah Tarsa dalam keadaan sehat. Bahkan masih beraktivitas seperti biasa yakni memberi makan ternak, berkebun dan lain sebagainya.

Keinginannya adalah dapat mandiri dan tidak menyusahkan orang lain, bahkan di usia yang sudah renta masih berusaha mencari nafkah sendiri. Raut semangat masih terlihat diwajahnya yang kusam oleh abu pembakaran tungku bahkan tidak sungkan bekerja meski banyak diluar yang memilih berpangku tangan pada orang lain.

Ia lebih memilih bertahan di gubuk tersebut ketimbang pindah ke tempat lain, karena dirasa lebih nyaman dan dekat dengan kesehariannya. Dimana kalau di tempat lain tidak bisa beraktivitas sesuai keinginannya seperti berkebun atau beternak.

"Kalau di sini bebas bisa pelihara ayam atau kambing , juga berkebun langsung kalau di tempat lain tidak. Kalau memang nanti tanah ini mau dipakai sama yang punya enggak apa saya pindah dari sini," katanya.

Di gubug yang berukuran 2x3 meter yang terdiri dari sebuah kamar dan beralasakan tanah, Ia tinggal selama dua tahun. Meski berdempet dengan kandang ternak milik orang lain, dirasakannya lebih baik dibanding tempat lain untuk berlindung dari hujan dan teriknya matahari.

"Keadaanya begini aja seadaanya, nggak ada jendela jadi agak pengap. Kalau masak ada diluar pakai tungku," ujarnya.

Ketika berkunjung ke Abah Tarsa, juga didampingi oleh cucunya, Elis (47) yang kadang menengok ketika tidak kerja atau ada waktu luang. Diakuinya, kakek tidak mau pindah dan lebih betah di gubuk tersebut. Sementara istri dan anak dari Abah Tarsa sendiri sudah lama tiada.

"Tidak mau pindah sudah betah di sini, kalau yang membantu biasanya mahasiswa atau komunitas. Kalau leher abah sudah diperiksa kemana-mana tapi enggak ada hasilnya, jadi sekarang demikian," tambahnya.

Editor: H. Dicky Aditya

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR