Alami Kelumpuhan Sejak Lahir, Bocah 7 Tahun Ini Butuh Biaya untuk Operasi

Nalendra Agung

Andrian Syahputra, anak usia 7 tahun yang didiagnosa dokter penderita pecah pembuluh darah hanya bisa duduk dan terbaring di ayunan, Senin (20/3/2017). Karena keterbatasan biaya, orang tuanya tak bisa mengobati Andrian ke Rumah Sakit.

Alami Kelumpuhan Sejak Lahir, Bocah 7 Tahun Ini Butuh Biaya untuk Operasi

Bandung Raya

Senin, 20 Maret 2017 | 19:07 WIB

Wartawan: Nalendra Agung

SEJAK lahir tahun 2010 lalu, Andrian Syahputra (7), sudah didiagnosa mengalami pecah pembuluh darah. Akibatnya, anak pasangan Subri (47) dan Suniangsih (44) mengalai kelumpuhan dan belum bisa berbicara.

Karena keterbatasan biaya, Andrian tidak mendapatkan perawatan medis secara maksimal. Andrian hanya pernah dirawat selama 3 minggu pada tahun 2010 lalu atau setelah ia dilahirkan.

Kini, Andrian hanya bisa tergoleh lemah di rumahnya di Kampung Cijeruk RT 05/ RW 08, Desa/Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Ibu kandung Andrian, Suniangsih menerangkan, Andrian hanya tergolek di ayunan bayi karena menderita lumpuh sejak kecil. Menurut diagnosa dokter, Andrian mengalami benjolan karena terdapat cairan di otak dan harus dioperasi.

Benjolan di kepala Andrian, mulai terlihat saat Andrian menginjak usia 3 minggu. Setelah diperiksa dokter, Andrian disarankan untuk segera dioperasi.

"Dari hasil diagnosa dokter, ada pendarahan di otak. Karena kami ingin Andrian cepat sembuh, kita bawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung untuk dioperasi," katanya kepada galamedianews.com, Senin (20/3/2017).

Bocah kelahiran 21 mei 2010 itu pun terlihat tidak berkembang seperti kebanyakan anak-anak lain pada umumnya. Sesekali jika diajak bercanda, ia masih bisa tertawa. Namun lebih banyak menangis menahan sakit di kepalanya sehingga ia lebih banyak menggelengkan kepala dengan keras yang mungkin dapat meredakan rasa sakit di kepalanya.

"Andrian harusnya sudah kelas 1 SD, namun kami tidak bisa berbuat apa-apa sebab sejak masuk rumah sakit 7 tahun lalu, kami belum bisa membawa Adrian lagi ke rumah sakit karena terbentur biaya," ujarnya.

Untuk membiayai kebutuhan sehari-hari termasuk mengobati penyakit Andrian, Suniangsih hanya mengandalkan penghasilan suaminya Subri yang berprofesi sebagai tukang ojek, dengan penghasilan rata-rata hanya Rp 70 ribu-Rp 90 ribu per hari.

Merkipun telah mendapatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari pemerintah, akan tetapi menurut Subri tetap saja untuk pengobatan dan operasi Andrian harus mengeluarkan biaya pribadi.

"Waktu operasi pertama itu kita sudah habis sekitar Rp 5 juta, belum lagi biaya pengobatan lainnya. Soalnya KIS itu cuma buat sakit aja gak bisa buat operasi", bebernya.


"Ya harapan ibu mah, Andrian bisa dapat pengobatan lagi, biar bisa cepet sembuh seperti anak-anak lainnya," tambah Suniangsih.

Editor: Andri Ridwan Fauzi

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR