Buku Merupakan Titik Awal Kebangkitan Peradaban Muslim

Bandung Raya

Kamis, 26 September 2019 | 12:08 WIB

190926120903-buku-.jpg

Nana Sukmana

BUKU merupakan titik awal kebangkitan sebuah peradaban. Oleh karena itu buku memiliki peranan yang sangat penting untuk mencerdaskan dan meningkatkan derajat suatu bangsa. Peradaban Islam maju dan berkembang karena para ilmuwan Islam membuat buku.

"Peradaban Islam itu dimulai dengan buku. Secara tersirat dan tersirat dan tersurat Allah memulai mengajarkan Islam dengan kata 'iqra'. Iqra, membaca, itu berkorelasi dengan menulis.  Oleh karena itu di kalangan umat Islam sekarang harus ada kesungguhan membaca dan menulis," ujar Ketua Ikapi Jabar, Mahpudi, dalam pertemuan dengan 15 Pesantren di Aula Wakaf Buku Lantai 4 Dispusipda Jabar, Jalan Kawaluyaan 2-4, Kota Bandung.

Pertemuan itu sebagai persiapan peluncuran Wakaf Litetasi (Wali) yang akan dilaksanakan dalam Book Fair 2019 di Caruban Convention Center, Kota Cirebon, 3 Oktober 2019.

Menurut Mahpudi, dipilihnya Cirebon sebagai tempat kegiatan karena di Cirebon banyak naskah kuno yang berusia 400 tahun berupa kitab, naskah, dan manuskrip yang manfaatnya masih dirasakan oleh masyarakat muslim. Selain itu, lanjutnya, berkaitan dengan momentum Hari Jadi ke-650 Cirebon, sekaligus menyambut gerakan literasi pesantrrn yang dicanangkan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Ia menjelaskan, kegiatan pamernan buku yang diselenggarakan atas kerja sama Ikapi Jabar, Diapusipda Jabat, Baznas Jabar, dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) Jabar ini  bukan hanya untuk menjual buku, melainkan ingin mendorong masyarakat agar gemar membaca sekalugus bisa menghasilkan buku.

"Membaca dan menulis itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu kami membuatan gerakan literasi, mulai dari tingkat SD. Nah, di Cirebon kami akan memulai dari pesantren. Kami akan mengajak para kiyai untuk menulis. Insya Allah kegiatan ini akan diluncurkan oleh Pak Gubernur," kata Mahpudi.

Menurut Mahpudi, yang menjadi prioritas dari gerakan literasi ini, yakni mereka yang memiliki banyak ilmu pengetahuan, seperti guru, kiyai, dan jurnalis.
Dicanangkannya gerakan menulis buku bagi para kiyai, lanjut Mahpudi, dijadikan prioritas sebgai bentuk keprihatinan sekaligus kepedulian Ikapi terhadap minimnya karya tulis para kiyai Indonesia.

"Berdasarkan data yang kami miliki dari setiap pameran, penulis buku agama hampir semuanya terjemahan. Sangat sedikit naskah yang ditulis ulama Indonesia. Padahal di Jawa Barat ada 8000 pesantren. Artinya, ekspektasinya, kalau 10% saja dari pesantren yang ada, kita sudah memiliki 800 judul buku agama karya para kiyai," tegasnya.

Mahpudi sangat meyakini, ilmu lengetahuan itu sudah berada dalam hardis alami berupa otak para kiyai. Persoalannya, yakni mengeluarkan isi kepala para kiyai dalam bentuk buku.

"Nah, kami dari Ikapi dan tim akan mendampingi para kiyai sekaligus mmmberikan pelatihan untuk menuangkan isi kepala para kiyai ke dalam bentuk tulisan. Kami juga punya 320 penerbit dan 550 percetakan yang siap membantu mencetak dan menerbitkan karya para kiyai," ujarnya.

Memprihatinkan
Ketua Tim Akselerasi Jabar Juara (TAJJ), Chatimul Banin Muhyiddin mengaku sangat prihatin melihat masyarakat muslim yang masih buta literasi. menurutnya, minat baca masih sangat rendah, demikinn juga di kalangan pesantren.

"Mereka belum mau membaca apalagi menulis. Bahkan, saya melihat minat menulis para dosen pun masih rendah," kata Pimpinan Pontren Pagelaran Subang yang lebih akrab dipanggil Mang Iim.

Oleh karena itu, kata Mang Iim, pihaknya sedang menggodok 17 pesantren di Jawa Barat dalam program literasi pesantren sesuai program Gubernur Jawa Barat.

"Kami kembangkan Qiraatil Kutub menjadi literasi pesantren. Programnya antara lain menyelenggarakan perpustakaan 15 pesantren kerja sama dengan Dispusipda. Ini untuk memicu santri untuk membaca," jelasnya.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR