Masuk Musola, Juga Diharuskan Salat Tahiyyatul Masjid?

Ragam

Senin, 16 September 2019 | 04:31 WIB

190915215159-masuk.jpg

Net

Ilustrasi.

SAAT kita masuk ke musola, surau atau langgar, haruskah kita melaksanakan salat tahiyyatul masjid sebagaimana biasa dilakukan saat masuk masjid?

Berkenaan dengan hal itu, kita tidak perlu melakukannya. Sebelum kita jelaskan sisi pendalilannya, mari kita bahas dulu tentang perbedaan musola dan masjid. Karena banyak diantara kita yang memahami bahwa musola berarti masjid yang berukuran kecil, dan pemahaman ini kurang tepat.

Perbedaan mendasar antara musola dan masjid terletak pada status Tanah Wakaf. Bangunan di atas tanah berstatus wakaf yang didirikan untuk tempat salat dinamakan masjid, meskipun ukurannya kecil. Sebaliknya, bangunan yang didirikan untuk tempat salat namun belum diwakafkan maka dinamakan musola, meskipun ukurannya besar. Berarti, setiap masjid adalah musola dan tidak setiap musola adalah masjid. Tidak bergantung pada besar kecilnya ukuran seperti pemahaman masyarakat umum. Contoh musola yang sering kita jumpai, musola di airport, musola di terminal, musola di stasiun, musola di mal, musola di kantor, dan lain lain.

Adapun tentang salat tahiyyatul masjid di musola, Syaikh Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang bangunan atau tempat ibadah yang disediakan di kantor untuk salat, dengan status sewa. Apakah bisa dihukumi masjid?

Beliau menjawab, ”Bangunan ini tidak memiliki hukum masjid, ini tempat salat (musola ), karena dimiliki orang lain (bukan wakaf), dan pemiliknya berhak menjualnya. Ini hanya musola dan bukan masjid, sehingga tidak memiliki hukum masjid…”

Beliau ditanya lagi, “Berarti tidak dianjurkan salat tahiyatul masjid?”

Beliau jawab, “Tidak dianjurkan, namun boleh didirikan salat sunnah seperti biasa (sunnah mutlaq)”. (Fatawa Islam no. 4399).

Al-Khathiib Asy-Syirbiini rahimahullah juga menjelaskan tentang ibadah yang menjadi kekhususan masjid, hanya boleh dilakukan di masjid, salah satunya adalah tahiyyatul masjid.

Beliau mengatakan, “Seluruh ibadah tidak harus dilakukan di masjid, kecuali salat tahiyyatul masjid, I’tikaf dan Thawaf”. (Mughniy Al-Muhtaaj, 5/329).

Syeikh Ibn Baz rahimahullah juga menjelaskan dalam fatwanya, “Dianjurkan bagi orang yang mendatangi musola untuk salat ‘Ied (jika ada udzur hingga tidak bisa mengerjakan di lapangan) atau salat Istisqaa untuk duduk (tidak disunahkan salat tahiyyatul masjid). Karena hal itu tidak pernah dinukil dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiallahu ‘anhum, sebatas apa yang kami ketahui. Kecuali jika salat ‘Ied tersebut dilakukan di masjid, maka hukumnya tetap sunnah berdasarkan keumuman hadis Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Jika salah seorang kalian memasuki masjid, janganlah ia duduk hingga melakukan salat dua rakaat”. Hadits yang disepakati keshahihannya.

Karenanya, kita tidak perlu melakukan salat tahiyatul masjid di musola, surau, atau langar jika mendatanginya, tapi lakukanlah yang lain seperti salat sunnah wudhu, qabliyah, ba’diyah, ataupun salat sunnah mutlaq.

Wallahu A'lam.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR