Siang Baru Berganti Malam 3 Bulan Sekali, Warga Sommaroy Luncurkan Petisi Zona Bebas Waktu Pertama

Ragam

Rabu, 19 Juni 2019 | 10:48 WIB

190619104816-siang.jpg

dailymail

Warga sebuah pulau di Norwegia di mana matahari tidak pernah terbit di musim dingin ataupun terbenam di musim panas bertekad untuk menghilangkan konsep waktu. Sekitar 300 orang yang tinggal di Pulau Sommaroy  meluncurkan kampanye untuk menjadi kawasan zona bebas waktu pertama di dunia karena dengan matahari yang selalu bersinar konsep waktu dengan pembagian siang dan malam tidak relevan bagi mereka.

Dikutip dari DailyMail kemarin,  Kjell Ove Hveding  yang memimpin kampanye Zona Bebas Waktu mengatakan tujuan kampanye ini adalah membebaskan penduduk pulau dari jam kerja tradisional, termasuk waktu transaksi bagi yang berbisnis seperti pemilik toko. Intinya memungkinkan mereka untuk melakukan apa diinginkan saat mereka memang menginginkannya.

Hveding menyebut langkah ini masuk akal karena Sommaroy  yang terletak di utara Lingkaran Arktik  tidak menjalani  waktu seperti di sebagian besar dunia. Di sini mulai dari November hingga Januari, matahari tidak terbit sama sekali dan dari 18 Mei hingga 26 Juli, matahari tidak pernah tenggelam.

Hidup dengan malam atau siang yang jauh lebih lama dari hitungan jam normal artinya pengertian tradisional siang dan malam di Sommaroy  tak berlaku. Kepada radio NRK, Hveding  juga mengatakan memaksakan zona waktu di tempatnya dengan kawasan normal bisa memicu depresi.

“Maksudku di seluruh dunia stres dan depresi tak bisa diabaikan. Dalam banyak kasus keduanya dikaitkan dengan perasaan terperangkap dan di sini konsep waktu sangat berperan. Dengan  zona bebas waktu setiap orang dapat menjalani hidup mereka sepenuhnya,” katanya.

Ia menambahkan, “Anak-anak dan remaja juga harus tetap bersekolah tetapi ada ruang untuk fleksibilitas. Tidak harus dipaksakan masuk dalam pembatasan jam sekolah atau jam kerja umumnya. Tujuan kami adalah fleksibilitas penuh, 24/7. Jadi jika Anda ingin menyapu halaman jam 4 pagi misalnya, bebas saja.”

Hveding meluncurkan kampanye akhir Mei lalu setelah hasil pertemuan  sebagian besar dari 300 penduduk pulau  memilih untuk berada di zona bebas waktu. Meski ada juga yang menganggapnya sensasi saja hingga  mendapat perhatian dunia, Hveding tetap  mengajukan petisi pada anggota parlemen lokal Kent Gudmundsen.

Dia juga mengklaim telah menerima dukungan dari kota Finnmark dan Nordland    yang ternyata berniat bergabung dengan skema waktu tersebut. Ini menyusul keputusan Uni Eropa yang mengumumkan bahwa mereka akan membatalkan waktu musim panas mulai tahun 2021. Artinya  pergantian jam dua kali setahun  yang diadopsi setelah Perang Dunia Pertama untuk mengurangi konsumsi bahan bakar  tidak akan ada lagi.

I see..

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR