Suasana Seni Kota Bandung

Citizen Journalism

Sabtu, 15 Juni 2019 | 13:27 WIB

190615133248-suasa.jpg

ist

SIANG itu Elda bersama rekannya berencana mengelilingi Kota Bandung. Hari itu adalah hari pertamanya menuju Bandung selama ia menjadi mahasiswa Universitas Padjadjaran, Jatinangor.

Tanpa referensi apapun, Elda bersama rekannya berangkat dari Kota Jatinangor menuju Kota Bandung dengan salah satu transportasi umum yang disebut Damri. Butuh waktu sekitar 40 menit untuk sampai ke tempat tujuan. Ditambah lagi, cukup membayar Rp7000 Elda sudah sampai ke Kota Bandung dengan Jalan Dipatiukur (DU) sebagai titik perhentiannya.

“Worth it banget,” katanya.

Setelah sedikit mengelilingi Jalan DU, Elda memutuskan untuk menggunakan ojek online menuju Jalan Asia Afrika.

“Di Bandung itu jalannya kecil-kecil, jadi kita bisa keliling jalan kaki nggak perlu naik kendaraan pribadi terus.” tambahnya.

Elda memulai misinya berkeliling Kota Bandung dimulai dari Jalan Asia Afrika. Suasana yang sejuk, warga Bandung yang berlalu lalang, bangunan-bangunan tua, menemani perjalanannya mengelilingi Kota Bandung sore itu.

Melihat salah satu tempat yang cukup eksis di Bandung, yaitu dinding bertuliskan “Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi” karya Pidi Baiq, Elda tertarik mengabadikan momen tersebut.



“Sejak melihat itu secara langsung, aku mulai mikir kalau Bandung ini seninya dapet banget,” kata Elda.

Melewati tempat wisata Alun-Alun Bandung, kemudian Jalan Sudirman, kini saatnya Elda menuju Jalan Braga. Saat itu Elda yang dasarnya tidak memiliki referensi tempat tujuan, mencari di internet tempat apa yang cocok dikunjungi sore hari.

”Aku baca di internet ada Kopi Djawa di Jalan Braga. Nah pas banget kan aku mau ke situ, akhirnya aku beneran ke situ.” jelasnya.

Melihat Jalan Braga sangat menarik perhatiannya saat itu. Menurutnya, dari mulai aspal jalan hingga bangunan di sepanjang Jalan Braga sangat berbeda dari jalan-jalan yang biasanya ia temui. “Di sepanjang Jalan Braga menuju ke Kopi Djawa benar-benar banyak spot foto,” tambahnya lagi.

Beberapa spot foto yang ia maksud seperti lukisan-lukisan yang dijual, bangunan-bangunan tua, serta pohon-pohon yang ditata rapih di sepanjang Jalan Braga.

Wilayahnya yang sangat rapih serta banyak lukisan membuatnya berfikir bahwa Bandung adalah salah satu kota seni yang pernah ia kunjungi.


“Meskipun ramai, tapi nggak bikin sumpek dan justru itu yang bikin suasana seninya semakin terlihat. Semacam Kota Tua di Jakarta, tapi kayaknya aku lebih suka Jalan Braga di Kota Bandung ini,” Katanya.

Sesampainya di Kopi Djawa, Elda ditarik lagi perhatiannya oleh keindahan cafe itu. Menurutnya meja kasir, meja pemesanan, atau yang biasa dilihat pengunjung sebagai tempat barista membuat kopi tersebut masih terasa suasana tempo dulu.

“Ketika ramai, sistem belinya tuh juga pengunjungnya dikasih remote kecil nanti kalau pesanannya sudah jadi, remote itu nyala terus kita ambil pesanan kita deh,” jelasnya.

Suasana yang modern namun masih bergaya oldies membuatnya semakin menyukai Kedai Kopi Djawa.

Selain itu Kopi Djawa juga tidak sekadar menyediakan kopi dan meja sebagai tempat pengunjung bersantai, namun menyediakan buku-buku sebagai bahan bacaan. Menariknya lagi, Kedai Kopi tersebut juga menjual pernak-pernik seperti tas rajut, kacamata, gelas, piring, kaca bergaya jadul, ikat rambut, gelang, topi, kalung, dompet, dan berbagai aksesoris lainnya.

Setelah puas menyantap kopi di Kedai Kopi Djawa, Elda mengakhiri perjalanannya dan memutuskan untuk kembali ke Jatinangor. Ia kembali ke tempat tinggalnya menggunakan travel dengan titik penjemputan di Mall Balubur Townsquare (Baltos) dengan biaya Rp 15.000.



Baru sehari berkeliling Kota Bandung saja, Elda sudah sangat antusias untuk kembali lagi. “Bandung benar-benar punya sejuta seni di dalamnya.” Pungkasnya.

Penulis: Deslita Krissanta Sibuea (deslitakrissantasibuea@gmail.com)
Mahasiswi Jurusan Penerbitan/Jurnalistik, Semester 4, Politeknik Negeri Jakarta.

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR