Strategi Semburan Fitnah di Pilpres 2019 Dipastikan Gagal

Pemilu

Jumat, 8 Februari 2019 | 14:55 WIB

190208145650-strat.jpg

jitunews


PROPAGANDA ala Rusia atau dikenal dengan Firehouse of Falsehood dinilai tidak pas digunakan sebagai strategi kampanye pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019. Alasannya, masyarakat kian cerdas memfilter mana informasi berbasis fakta dan kebohongan.

Pengamat Komunikasi dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing mengakui, pabrikasi fitnah, hoax yang dilakukan secara massif akan mempengaruhi masyarakat. Tetapi jika informasi-informasi hoax itu terus terbantahkan, maka publik tidak akan percaya lagi dengan semburan fitnah yang dilancarkan.

"(Informasi hoax) itu memang akan tertinggal di peta kognisi khalayak dan bisa jadi menimbulkan disonansi kognitif. Ini perlu counter berbasis fakta dan data," kata Emrus.

Beberapa semburan kebohongan yang kemudian terbongkar, Emrus mencontohkan, adalah kasus Ratna Sarumpaet yang kemudian mengaku berbohong telah dipukuli orang tidak dikenal. Berita hoax lain adalah mobil Neno Warisman dibakar oleh seseorang, namun klarifikasi kspolisian memastikan bahwa mobil Neno terbakar karena korsleting pada sistem kelistrikan mobilnya. Berita lainnya yaitu soal rumah Mardani Ali Sera yang disebut dilempar bom molotov. Akan tetapi CCTV rumahnya tidak merekam kejadian tersebut.

Emrus menjelaskan, secara pragmatis dalam politik apa pun bisa dilakukan termasuk melakukan semburan kebohongan. Tetapi dalam konteks komunikasi, kata dia, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mengembalikan persepsi publik soal kebohongan-kebohongan yang terus dilancarkan.

"Counter berbasis fakta dan pasangan yang menjadi korban semburan fitnah (petahana) harus terus menjadi leading sector dalam memproduksi isu-isu positif," ujarnya seperti dalam keterangan tertulisnya, Jumat (8/2/2019).

Isu-isu positif yang menjadi antithesis semburan fitnah itu juga, kata Emrus, harus diamplifikasi melalui media massa dan media social. "Ini untuk menguatkan kembali keyakinan masyarakat yang otaknya sudah teracuni hoax dan kebohongan itu," sambung dia.

Istilah Propaganda Rusia menjadi polemik seiring pernyataan calon presiden nomor urut 1, Joko Widodo di Surabaya belum lama ini. Jokowi menyatakan ada tim sukses yang menggunakan strategi teknik propaganda firehouse of falsehood.

Firehouse of Falsehood merupakan teknik propaganda yang memiliki ciri khas melakukan kebohongan-kebohongan nyata (obvius lies) guna membangun ketakutan publik. Tujuannya untuk mendapatkan keuntungan posisi politik sekaligus menjatuhkan posisi politik lawannya dan dilakukan secara terus menerus.

Istilah Propaganda Rusia ini populer setelah RAND Corporation menerbitkan artikel berjudul The Russian "Firehouse of Falsehood" yang ditulis Christopher Paul dan Miriam Matthews. Juru bicara TKN Jokowi-Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily pernah mengatakan, istilah itu sudah mulai populer sejak tiga tahun yang lalu. Murni istilah dan referensi akademik.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR